Minggu, 20 Desember 2020

KH. HASAN BASRI


KH. Hasan Basri bin Sahari lahir di Amuntai, Sabtu, 5 Juni 1954 M (bertepatan dengan 4 Syawal 1373 H) adalah pendidik pada Pondok Pesantren “al-Baqiyatus Shalihat” Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Beliau termasuk ulama yang berpengaruh di Provinsi Jambi, di samping KH. Muhammad Daud Arif yang juga kelahiran Amuntai, Kalimantan Selatan.


Telah berpulang ke rahmatullah pada hari Selasa, 24 Februari 2026 (bertepatan dengan 6 Ramadhan 1447 H).

Diantara kalam beliau:

“Bersabarlah dalam menghadapi cobaan dan selalu mengintrospeksi diri. Karena setiap cobaan yang diterima pada hakikatnya untuk menambah derajat ke tempat yang lebih tinggi”.

“Anak muda harus punya keyakinan dan kemauan keras. Memang tidak ada yang mudah, tetapi juga tidak ada yang tidak mungkin selagi mau berusaha, selebihnya kita juga diwajibkan selalu bertawakkal”.

“Dan sebaik-baik kekayaan adalah kaya hati, kaya terhadap memandang baik diiri seseorang. Dan sebaik-baik  kemiskinan memandang kekurangan diri sendiri”.

Ustadz MUHAMMAD SYAHRUDDIN


Ustadz Muhammad Syahruddin bin H. Johan adalah seorang guru al-Qur’an, berkecimpung didalam pengajaran pembacaan al-Qur’an di beberapa TPA. Beliau sempat menyusun buku “Ikhtisar Ilmu Tajwid” (84 hal) diterbitkan oleh Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai, 1999. Buku tersebut juga tersimpan di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Disamping itu, beliau juga ada menyusun buku kecil tentang lagu-lagu untuk Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).

Telah berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu, 19 Desember 2020 M (bertepatan dengan 4 Jumadil Awwal 1442 H).

Kamis, 03 Desember 2020

Muallim H. SADERIANNOOR


Ustadz H. Saderianoor bin H. Husin Kaderi, lahir di Ilir Mesjid, Sungai Banar, Amuntai, Jum’at, 8 Maret 1968 M, bertepatan dengan 9 Zulhijjah 1387 H. Berlatar belakang pendidikan Pondok Pesantren “Darussalam”.  Sekarang menjadi pendidik di Pondok Pesantren “Ar-Raudhah” Desa Pasar Senin, Kecamatan Amuntai Tengah, Amuntai.

Diantara kalam beliau:

“Bila handak mulia, rohnya mulia, jasadnya mulia, (maka) carilah ilmu”.

“Wa idzaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qariib ... (Qs. Al-Baqarah ayat 186)”, apabila batakun wahai Muhammad ummat kamu tentang Aku, padahakan Aku itu parak bangat”. Kenapa parak banar? Sebab Allah ta’ala itu tahu (mengetahui), mendengar, melihat. :ebih kenal Allah Ta’ala dengan kita ini daripada kita mengenal diri kita sendiri. Allah Ta’ala Maha Tahu. Kita pang? Kada tahu. Dekatnya Allah Ta’ala lebih dekat daripada engkau dengan kerongkongan engkau. Kerongkongan kita yang ada didalam (leher) kita kada tahu, padahal kada jauh lawan diri kita, tapi kita kada tahu. Tetapi kalau Allah Ta’ala mengetahuinya, melihat dan mendengar”.

“Belajar (lah) tauhid (agar) dapat menyaksikan Allah Ta’ala (menyaksikan kebesaran Allah, pen) lalu ma’rifat ngarannya. Ma’rifat itu tahu lawan Allah Ta’ala, imbah tahu pang, lalu handak taqarrub. Jadi mun orang tu pian tahu, pasti handak taqarrub, handak baparak (mendekat)”

“Kebanyakkan kita kada (tidak) melihat kepada suatu petunjuk yang baik. Kadang-kadang orang-orang itu hanya meilhat yang, yang dingat-ingat adalah kejahatan seseorang, tetapi mereka lupa dengan kebaikan seseorang.  Maka dengan ini kita memuji Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan hidayah dan akan membukakan hidayah tersebut akan segala perbuatan-perbuatan yang indah, yang benar, maka denga melihat keindahan dan perbuatan yang benar, maka kita ingin mengikuti.”

“Tidak akan tercapai suatu kebajikan, terkecuali ia berani mengeluarkan apa yang dicintai.

Ustadz AHMAD NAZRY, S.Pd.I

 

Ustadz Ahmad Nazry, S.Pd.I bin Muhammad, lahir di Teluk Cati, Kecamatan Sungai Tabukan, Hulu Sungai Utara, Minggu, 12 Oktober 1975 M, bertepatan dengan 7 Syawal 1395 H.  Berlatar belakang pendidikan pondok pesantren “Ar-Raudhah” dan S-1 Fakultas Tarbiyah. Sekarang menjadi pendidik di Pondok Pesantran “Ar-Raudhah” Pasar Senin Amuntai.

Diantara kalam beliau:

“Kita harus meminta “taufiq” kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Makanya jangan sampai kita habis berdo’a itu, apalagi sehabis sembahyang (shalat) jangan sampai tatinggal mintakan taufiq untuk diri kita dan keluarga khususnya, serta zurriyat-zurruyat kita.

”Kalau tidak ada taufiq dari Allah Subhanahu wa ta’ala, (maka) kita tidak akan bisa mengamalkan ibadah, dan tidak dapat mendapatkan ilmu, dan mengamalkannya sesuai dengan kehendak Alah Subhanahu  wa ta’ala. Kalau ibadah kita tidak sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala, maukah diberi pahala?

Senin, 02 November 2020

KH. ABDULLAH SYUKRA


KH. Abdullah Syukra adalah Pengasuh Pondok Pesantren “Darul Aman” Desa Pajukungan, Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Telah berpulang ke rahmatullah pada hari Minggu, 13 September 2020 M, bertepatan dengan 25 Muharram 1442 H), setelah shalat maghrib di rumah sakit Kandangan. Dimakamkan di Babirik, Amuntai.

Diantara kalam beliau:

“Kita bamulutan ini disuruh oleh Allah Ta’ala, karena menghormati, menggembirakan tentang kelahiran junjungan kita, Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dengan kelahiran junjungan kita itu, kita semua jadi beriman. Karena kalau kadada Rasulullah kadada kitanya ini.”

“Sebagian daripada keistimewaan kita bamulutan ini kada lain adalah setahunan garansi di kampung itu nah, dirumah itu dapat keamanan, dan yang kedua segala hajat dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala”.

“Membaca shalawat, walaupun yang pendek kada panjang, seperti membaca : shallallahu ‘alaa Muhammad, 500 x sehari, (maka) kada mau susah jar Nabi. Apalagi 1000 kali. Kaya apa fadhilatnya? Jar Nabi amun membaca 1000 kali maginnya ai, kada (tidak) mati dahulu kecuali melihat sorga dulu hanyar (baru) meninggal dunia”

“di rumah itu apabila ada nang kada sembahyang (maka) itu (dapat) mengundang bala sarumahan”.

“Mskipun paguruan amun (apabila) menyuruh kepada maksiat, jangan dituruti, jangan hakun”.

 

Minggu, 25 Oktober 2020

KH. AHMAD MANSUR

 Ahmad Mansur bin H Abdullah bin Matsi, lahir di desa Tambalangan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, 27 agustus 1923 bertepatan dengan 14 Muharram 1342 H. Latar belakang Pendidikan dimulai Sekolah Rakyat dari tahun 1930- 1936 kemudian melanjutkan ke Madrasatur Rasyidiyah selama 3 tahun.  Setelah itu beliau berguru dengan sejumlah ulama, diantaranya dengan KH. Abdurrasyid dari desa Pekapuran, KH. Chalid dan KH. Asy’ari dari desa Tangga ulin, KH. Muhammad Imran dari Tambalangan, KH. Abdul Hamid atau Guru Tarus dari Paliwara, KH. Abdul Wahab Sya’rani dari desa Pamintangan, serta KH. Muhammad Ardhi dari desa Sungai Banar.

Pada sekitar tahun 1950 beliau intensif mengajar ilmu tauhid atau sifat 20 yang diajarkan dengan menggunakan metode pakai batu.

Pada tahun 1994 pada masa KH. Juhri Sulaiman memimpin al Madrasatur Rasyidiyah, KH. Ahmad Mansur ditunjuk sebagai Pengawas dan Penasehat.

Adapun tuan guru-tuan guru yang seangkatan dengan beliau pada waktu itu diantaranya  Dr. KH. Idham Chalid,   KH. Ja’far saberan, KH. Ismail bin Jaferi dan KH. Ahmad Afandi (Paliwara), KH. Abdul Muthalib Muhyiddin (Palampitan), KH. Abdul Karim dan KH. Ahmad Dahlan (lok bangkai), KH. Abdul Wahab Sya’rani (Palimbangan), KH. Zamzam, Tuan Qadi H. Burhan, KH. Muhammad Janawi (Haur Gading), KH. Jawawi (Lok Bangkai), KH. Simis (Jarang Kuantan), KH. Kaderi (Pakacangan), KH. Busra ( Tambalangan), dan lain-lain.

Beberapa murid beliau yang menjadi ulama besar diantaranya KH. Muhammad Syukeri Unus, KH. Tarsi Hawi, KH. Muhammad Fadli, Drs. H. Jamhari Arsyad, KH. Bahran Noor Haira, dan lain lain.

Berpulang kerahmatullah pada Kamis pagi 2 Juni 1998 bertepatan dengan 8 Rabiul Awwal 1419 dimakamkan di alkah desa Tambalangan.