KH. Busra bin Abdullah lahir di Tembilahan, Riau 1905 M (1322 H). Sejak kecil mendapat tarbiyah dari orangtuanya. Sekitar tahun 1921 M (1338 H) saat berumur remaja 16 tahun, ikut orang tua berlayar dari satu tempat ke tempat lainnya untuk berdagang seraya berdakwah. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 7 tahun, dan persinggahan terakhirnya adalah di Alabio.
Tahun 1930 beliau sudah mampu untuk berdakwah sendiri, bahkan sampai ke daerah Margasari (kabupaten Tapin). Di Margasari beliau diambil menantu oleh salah seorang ulama buyut dari Syekh Muhammad Arsyad alBanjari, yang bernama Syekh Ahmad bin Abdullah bin Asiah binti Maulana Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. Menikahkan dengan anak saudarinya atau keponakannya yang bernama Hj. Mastura. Dan setelah menikah, beliau bertempat tinggal di Alabio.
Dalam keseharian beliau berdagang emas, sehingga dikenal masyarakat dengan nama Tuan Guru Busra emas. Di Alabio beliau mendirikan madrasah Asy Syafi’iyah yang beralamat di Jalan istirahat No. 51 Sungai Pandan Hilir, Alabio dan kemudian mewakafkannya untuk masyarakat setempat.
Di antara guruguru beliau, adalah Habib Salim bin Jindan (Jakarta), KH. Saberan kacil (Alabio), KH. Husin Qadri dan KH. Kasyful Anwar (Martapura), KH. Abdussamad (Alabio), KH. Abdul Hamid (Guru Tarus, Amuntai), KH. Muhammad Nasir dan KH. Husin Kafur (Amuntai).
Sedangkan diantara keturunan beliau, dari 8 orang lelaki dan 3 orang perempuan, yang terjun dan berkecimpung di bidang dakwah diantaranya H. Arsuni Busra (Panti Asuhan “Sentosa” Banjarmasin) dan KH. Ahmadi Busra (Pengasuh Majelis “Miftahul Musthafa” Banjarmasin).
Telah berpulang ke rahmatullah pada Jum’at, 14 Mei 1965 (bertepatan dengan 12 Muharram 1385 H) dimakamkan di Gang Jaiz. Kemudian pada hari Rabu, 1 Februari 2024 M (bertepatan dengan 10 Rajab 1444 H) di pindahkan ke samping Majelis “Miftahul Musthafa”, kelayan B Gang Babussalam, Banjarmasin.
Diantara wasiat beliau:
“Hendaklah engkau ingat selalu dzikir kepada Allah dalam keadaan apapun, dan jangan tinggalkan shalat 5 waktu”
“Hendaklah engkau memperbanyak shalawat kepada Saidina Muhammad dengan hudurnya hati”
“Jadikan tabiat hidupmu seperti dalam kitab Bidayatul Hidayah”


