Ustadz H. Faturrahim, lahir di Amuntai, Rabu, 10 Mei 1961 (bertepatan dengan 25 Zulqaidah 1380 H) . Adalah Khadimul Majelis “Nurul Irsyad” Desa Patarikan, Kecamatan Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Bermula dari suatu mimpi, dimana tersiar kabar bahwa KH. Dja’far Saberan (orang Amuntai yang menjadi ketua MUI di Samarinda) meninggal dunia. Maka banyaklah orang takziyah. Hingga ada pengumuman dari panitia, yang berkata, “mana ulama dari Amuntai ?”. Sekilas kulihat dalam tulisan dikertas ada nama KH. Said Masrawan, Lc., MA (Ketua MUI Kab. HSU). Wallahu a’lam.............. Sufyan bin Uyainah ra berkata: عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة "ketika menyebut orang-orang sholeh akan bercucuran rahmat"
Sabtu, 25 April 2020
Ustadz H. FATURRAHIM
Diantara kalam beliau:
“Sesungguhnya orang yang mampu bersyukur
sewaktu dalam keadaan senang, dalam keadaan lapang, dalam keadaan bahagia dalam
keadaan sejatera, maka Allah akan menghindarkannya daripada bala.’
“Senantiasa istiqamah dalam ibadah, tidak
melanggar larangan-larangan Allah, dimasa mudah, niscaya diberi kemampuan dan
kelapangan serta kesempatan (pula) untuk menjalankan ibadah, dimasa susah”.
“Ingatlah kamu akan Allah subhanahu wa ta’ala
niscaya mendapat pahala dari Allah menyertai. Kita jadikan Allah itu sebagai
penunjuk jalan kita. Syaratnya jangan melupakan Allah. Jangan sampai engkau
melupakan Allah saat dalam keadaan senang ataupun dalam keadaan genting. Kalau
Allah sudah sebagai pelindung kita, karena kita tidak pernah melupakan-Nya, dan
ketika kita diuji Allah dengan
bermacam-macam ujian, tetap kita kada melupakan Allah. Maka dengan kita tetap
dengan betul-betul menjalankan agama Allah subhanahu wa ta’ala, maka dada kita
menjadi lapang. Peliharalah akan Allah niscaya Dia akan mengingat kamu.
Janganlah engkau melupakan Allah niscaya Allah tidak akan melupakan kamu”
Senin, 13 April 2020
Ustadz H. AHMAD THABRANI
Ustadz
H. Ahmad Tabrani adalah Pimpinan Majelis Taklim “al-Mukhlisin” Desa Lok
Soga, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Diantara
kalam beliau:
“Bahwasanya orang yang ziarah kepada auliya,
apakah dia masih hidup, ataukah beliau sudah meninggal dunia, maka Allah akan
memberikan pahala kepada orang yang ziarah tersebut, dan akan terhubung dengan
si wali yang kita niatkan ini, misalnya, menziarahi wali qutub, (maka) kita
mendapatkan nur mahabbah juga sekalipun kita kada menjadi wali qutub,
dan memang kita kada wali qutub Cuma kita dapat merasakan, artinya apa? Kita
ini, misalnya, bupati datang lalu kita mairingi (mengikuti) beliau. Lalu
disambat orang: tu jar orang rombongan bupati. Padahal mana kita jadi bupati, cuma
taumpat jua rombongan bupati. Nah kaitu jua. Memang kita kada wali
Qutub, Cuma tabuat dalam rombongan wali qutub, dapat kita fadhilat wali.
Jadi nang kita ziarah, baik nang walinya masih hidup, maupun nang walinya sudah
meninggal, maka kita dapat. Seandainya beliau itu benar-benar wali, maka kita
mendapatkan fadhilah wali jua berkah ziarah kita”.
Ustadz Drs. H. YUSRAN HILMI, M.M
Ustadz Drs. H. Yusran Hilmi, M.M lahir di
Amuntai, 16 Juli 1947 M (bertepatan dengan 27 Sya’ban 1366 H). Pernah menjadi
Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Teluk Daun periode 1972 s/d 1975.
Aktivitas menjadi da’i dan khatib diantaranya di Mesjid “Sabilal Muttaqin”
Sungai Malang Amuntai.
Diantara kalam beliau:
“Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, yang
artinya : “dan Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berberjihad
dijalan Allah, dengan harta, benda dan diri mereka, adalah mereka itu lebih
tinggi derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala dan merekalah orang-orang
yang mendapat kemenangan” (QS. At-Taubah (9): 20). Dari ayat di atas, dapat diambil kesimpulan
bahwa manakala kita ingin menjadi orang yang mempunyai kedudukan istemewa
disisi Allah, maka ada 3 (tiga) hal yang harus kita fahami dan amalkan dalam
kehidupan sehari-hari, (yaitu) dengan memperteguh keimanan.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa secara harfiyah iman artinya percaya. Orang
yang beriman artinya orang yang memiliki kepercayaan-kepercayaan yang
benar. Karena itu, tidak setiap orang
yang mengaku iman kepada Allah diakui keimanannya. Sebagaimana disebutkan dalam
al-Qur’an : “Di antara manusia ada yang mengatakan kami beriman kepada Allah
dan hari akhir, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman
(Qs. Al-Baqarah (2) : 8). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa : “Iman itu dibenarkan dalam hati,
diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan” (HR. Ibnu Majah). Maka manakala unsur iman itu tidak ada pada
diri kita maka keimanan kita dianggap tidak benar. Di samping itu, keimanan
yang kita miliki, ia harus disertai dengan keteguhan, pendirian yang kuat, yang
tidak goyah sedikitpun. Sikap seperti itu, membuat orang mukmin tidak
terpengaruh dengan hal-hal yang menimpa dirinya, sebagai konsekuensi dari
keimanan dan diapun juga tidak akan berduka cita dalam arti tidak menyesal
sebagai orang beriman. Mukmin seperti inilah yang nantinya akan meraih bahagia
di dunia maupun akerat”.
“Dan juga yang membuat orang mukmin itu
derajatnya terangkat di sisi Allah adalah dengan berjihad, yang
artinya bersungguh-sungguh. Kalau seorang muslim diperintah untuk berijihad itu
artinya dia harus memiliki kesungguhan dalam diri, baik kesungguhan dalam
perang dalam diri maupun perang melawan hawa nafsu untuk bisa memegang agama
dengan kuat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits : “Orang yang berjihad adalah
orang yang berjuang melawan hawa nafsunya untuk mentaati Allah Subhanahu wa
ta’ala” (HR. Tirmidzi).
“Agar kita betul-betul termasuk orang-orang
yang beriman dan terangkat derajat disisi Allah adalah dengan berhijrah,
yaitu dengan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
Sebagaimana sabda Rasulullah : “Orang-orang yang berhijrah adalah orang-orang
yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah Sub hanahu wa ta’ala”.
Dengan demikian, iman harus dibuktikan dengan hijrah atau meninggalkan segala
bentuk yang diharamkan dan bathik kepada sesuatu yang halal dan haq”
Ustadz SYAJARUDDIN
Ustadz Syajaruddin lahir di Telaga Silaba, Kecamatan Amuntai Selatan, Selasa, 1 Januari 1980 (bertepatan dengan 12 Shafar 1400 H) adalah seorang khadimul majelis “al-Furqan” Desa Telaga Silaba, Kecamatan Amuntai Selatan.
Diantara
kalam beliau:
“Diantara
tanda orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang apabila melakukan suatu
keburukan, suatu maksiat yang berhubungan dengan orang lain, (seperti)
mengghibah orang, menganiaya orang, mengakat tanah orang, menyakiti orang lain,
mengambil harta orang, atau menggawi dosa yang berhubungan dengan pribadinya
(seperti) minum khamar, kada sembahyang, (maka) dia segera dzakarallah,
ketika mengerjakan suatu dosa langsung ingat kepada Allah. Ingat bahwa Allah
Subhanahu wa ta’ala Maha Tahu, Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Agung, dan Allah
Subhanahu wa ta’ala mengamcam bila mengerjkan dosa ini maka diabalas dengan
ini, dibalas dengan neraka. Mereka langsung ingat ini, ini tanda orang beriman.
Cuma sekedar ingat hajakah? Kada! (tapi) setelah ingat dengan Allah Subhanahu
wa ta’ala, ingat akan ancaman Allah Subhanahu wa ta’ala (maka) dia langsung
minta ampun.”
“Rasulullah
bersabda, bahwa barangsiapa melazimkan istighfar, barangsiapa membanyakkan
membaca istighfar, (atau) banyak membacanya dan istiqamah mengamalkannya,
(maka) Allah jadikan jalan keluar dari segala kesempitan. Kita nih hidup pasti
punya masalah, kadada orang nang hidup kada bamasalah, pasti
bamasalah. Cuma yang penting, apapun masalahnya kita dapat maatasinya. Kalau
masalahnya kecil kada kawa maatasi, payah jua, apalagi masalahnya berat. Nang
penting, ketika masalah datang kita bisa mengatasinya. Diantaranya adalah
dengan banyak-banyak membaca istighfar”.
“Kalau
misalnya, didinding ini ada CCTV, berarti ada kamera yang mengawasi, kira-kira
maling tu wanikah masih mencuri. Ulun yakin kada wani lagi. Kalau ada
juga maling yang wani mencuri, mencuntan ketika ada kamera pengawas berupa CCTV, itu artinya
maling tu kada ba akal. Tahu diawasi orang masih jua manggawi. Dengan
demikian, ketika sifat muraqabah ada didalam hati kita (dimana) kita
merasa Allah selalu mengawasi daripada semua aktivitas perilaku kita, insya
Allah kada wani lagi kita mengerjakan maksiat”.
Selasa, 07 April 2020
Ustadz ZULKIFLI al-BANJARI
Ustadz Zulkifli al-Banjari, Lc adalah alumni Madrasah Aliyah Khusus (MAK)
Normal Islam Putra “Rasyidiyah Khalidiyah” Amuntai angkatan tahun 2003. Setelah
itu melanjutkan studi ke Universitas “al-Azhar” Cairo, Mesir, mengambil jurusan
Syari’ah Islamiyah Perbandingan Madzhab Fiqh (angkatan 2009).
Sekarang menjadi dosen di Universitas Musi Rawas, Sumatera Selatan dan juga
dosen di Institut Agama Islam al-Azhar Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.
Aktifitas lainnya adalah sebagai Ketua Umum At-Tauhid Wan-Nur, serta mengasuh
majelis taklim “An-Noor”.
Diantara kalam beliau:
“Bahagia itu pilihan. Kuncinya cuman 2 (yaitu)
sabar dan syukur. Sabar ketika ditimpa penderitaan, syukur ketika diberi
kenikmatan hidup, itu biasa. Dan yang jauh lebih luar biasa adalah kalau kita
masih bisa bersabar menahan diri ketika kita bergelimang dengan kenikmatan
tetapi kita bersyukur walaupun kita ditimpa berbagai macam penderitaan.”
“Dunia yang lapang akan terasa sempit bagi
orang-orang yang hatinya sempit, namun walaupun orang itu berada ditempat yang
sempit, ia masih bisa mendapatkan kebahagiaan apabila hatinya lapang”.
“Satu-satunya cara melapangkan hati adalah
dengan berdzikir, dzikrullah, ingat kepada Allah. Ala bi dzikrillahi
tathmainnul quluub. Ketahuilah hanya dengan berdzikirlah dan ingat kepada
Allah maka hati bisa menjadi tenang dan tenteram (lihat QS. Ar-Ra’d : 28)”
HABIB AHMAD KARIM al-AYDRUS
Al-Habib as-Sayyid Ahmad Karim bin Ahmad Alaydrus diperkirakan lahir terdahulu
daripada ulama-ulama besar seperti Syekh KH. Muhammad Chalid bin Abdurrahman (lahir Tangga Ulin, 1260 H/ 1842 M), Mufti H. Muhammad Said bin Muhammad Amin (1242 H/ 1824 M), KH. Abdul Ghani (Alabio, 1266 H/ 1836 M), KH. Abdul Hamid (Guru Tarus, Paliwara, 1267 H/ 1836 M) dan KH. Ahmad Khatib (Sungai Banar, 1866 M).
Al-Habib Ahmad Karim Berpulang kerahmatullah pada 10 Syawal 1269 H (1854 M).
Makam beliau berada di desa Jingah Rabit, Alabio, Amuntai, Kabupaten Hulu
Sungai Utara.
Ustadz AHMAD TANTAWI, Lc
Ustadz Ahmad Tantawi, Lc adalah da’i sekaligus pendidik dari Kecamatan Haur
Gading. Pernah mengajar di Madrasah
Aliyah Negeri (MAN) 4 Babirik, setelah itu beliau pindah mengajar di Madrasah
Aliyah Negeri (MAN) 1 Amuntai dengan mata pelajaran yang diampu adalah Bahasa
Arab.
Diantara kalam beliau:
“Terdapat dalam kitab yang dikarang oleh Syekh Ahmad Syarqawi, diantara
sekian banyak keistemewaan yang dimiliki Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wasallam, yang paling penting adalah karena beliaulah manusia satu-satunya yang
diberi wewenang oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk memberi syafaat kepada
manusia yang menjadi ummatnya”.
“Dengan merayakan maulid kelahiran beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam),
menyimak kembali sejarah perjuangan beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam),
merenungkan kembali ajaran beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam), serta
mencontoh teladan dari kehidupan beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam), (maka) diharapkan nantinya hidup kita akan
kian mencerminkan ajaran agama yang dibawa beliau (shallallahu ‘alaihi
wasallam), yaitu agama Islam”
“Peristiwa Isra mi’raj merupakan bagian penting dari ajaran islam, karena
menyangkut sejarah kehidupan Nabi. Kejadian diperjalankan-Nya Nabi Muhammad
dari Masjidil haram ke masjidil Aqsa, lalu ke sidrathul muntaha yang berujung
pada perintah shalat lima waktu, memang berada diluar nalar manusia. Karenanya,
hanya iman seseorang yang bisa menerimanya. Sehingga, dari terjadinya Isra
mi’raj ini akan diseleksi Allah, siapa saja yang mengimani maupun yang tidak.
Bagi kita ummat Islam, tentu wajib hukumnya percaya kepada peristiwa Isra
Mi’raj, karena ada kaitannya dengan rukun iman, yaitu percaya kepada Rasul.”
Langganan:
Postingan (Atom)






