Sabtu, 30 Desember 2017

Drs. H. SYAMSURI ARSYAD




Drs. H. Syamsuri Arsyad, lahir di Tabuan, Kecamatan Halong, Kabupaten Hulu Sungai Utara pada Senin, 27 Mei 1968 M (bertepatan dengan 28 Shafar 1388 H). Pendidikan yang pernah di tempuh SDN Gunung Batulis Tabuan (tamat 1982), MTs N Layap Paringin (1985), MAN Amuntai (1988). Setelah itu melanjutkan  kuliah pada Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin (lulus 1994).
Pernah aktif dalam kegiatan organisasi, diantaranya Angkatan Muda Satuan karya Ulama Indonesia (AMSI) dibidang penerangan dan dakwah (1980), Ketua Umum KSM Ulul Albab (1992-1995). Beliau pernah  menjadi Staf  Redaksi Majalah Panda (1992).
Sebagai seorang pegawai di lingkungan Departemen/ kementerian Agama, beliau pernah menduduki jabatan sebagai Pjmt Kepala KUA Kecamatan Juai (1997) dan Kepala KUA Kecamatan Halong (1998), masih sempat meluangkan waktu untuk menulis buku, diantaranya buku “Para Kekasih Allah”, Penerbit Percetakan “Dhiah” Offset, Amuntai, 1999.
Selagi masih menjabat sebagai Kepala KUA Kecamatan Halong, kemudian di tarik ke kantor Kementerian Agama Kabupaten Balangan sebagai Pelaksana Tugas Kasi Pekapontren dan Penamas (2005), kemudian menjadi Kepala Sub Bagian Tata Usaha (2006), Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (2013) dan sekarang  menjabat Kepala Seksi Pemberangkatan Haji dan Umrah Kemenag Balangan (2017).

Diantara kalam beliau:

“Cinta kepada Allah harus bersih dari debu-debu kemunafikan”

“Ahli sufi belajar kelakuan (amalan-amalan) yang bibir mereka tidak pernah lepas dengan dzikir baik berupa astaghfirullah, Laa Ilaha illallah,atau shalawat yang tak putus-putus dan begitu seterusnya untuk mencapai derajat khususul khusus (manusia luar biasa)”.

Minggu, 24 Desember 2017

Drs. H. MATNOR, M.Pd



Drs. H. Matnor, M.Pd lahir di Pandawanan, Amuntai, Kamis, 2 Juni 1966 M (bertepatan dengan 12 Shafar 1386 H). Latar belakang pendidikan beliau adalah MI “Nurul Irsyad”, Matang Lurus (1979), kemudian melanjutkan  ke MTs Negeri Amuntai (1984) dan MAN Amuntai (1986). Tamat dari MAN Amuntai meneruskan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Rakha Amuntai (lulus tahun 1993).
Sebelum menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama, beliau pertama kali diangkat sebagai Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri Babirik, kemudian mengajar di MIN Sungai Awang.
Jabatan di lingkungan dunia pendidikan yang pernah beliau pegang adalah sebagai Kepala MTsN Babirik dan Kepala MAN 3 Amuntai.  Sejak tahun 2006 beliau ditarik ke kantor kementerian Agama Kabupaten Hulu Sungai Utara sebagai Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, dan tahun 2007 menjadi Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam.
Pernah menjabat sebagai Kepala kantor kementerian Agama Kabupaten Hulu Sungai Selatan (2011-2017), dan sekarang menduduki jabatan sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Hulu Sungai Utara di Amuntai (2017- ).


Diantara kalam beliau:

“Untuk membina rumah tangga bukan hal yang mudah, banyak rintangan dan gelombang yang harus dilalui bersama, berbeda dikala sebelum menikah. (Karenanya) calon pengantin dalam membina rumah tangga harus memiliki sifat “Sajuta” (sabar, jujur, tawakal) serta harus ada saling kepercayaan antara satu sama lain, untuk menuju keluarga yang Sakinah Mawaddah wa Rahmah”.

Sabtu, 25 November 2017

KH. ABDUL HALIM bin H. AHMAD, Lc., MM



KH. Abdul Halim lahir di Amuntai, Rabu, 11 September 1957 M (bertepatan dengan 15 shafar 1377 H). Pendidikan SD dan SMP di Amuntai yaitu SDN  Kuripan (1971) kemudian melanjutkan ke Normal Islam (1976). Selanjutnya mulai tahun 1977  meneruskan ke Al-Azhar Buust (1981) dan Universitas al-Azhar Cairo, Mesir (1986). Pendidikan terakhir S-2 STIE Pancasetia Banjarmain (2013).
Karir dimulai sebagai staff seksi Penais di Kandepag Kabupaten HSU. Tahun 1998 diangkat menjadi Kepala KUA Kecamatan Amuntai Tengah. Karir terus menanjak, hingga pada tahun 2005 diangkat menjadi Kepala kantor Departemen Agama Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kepala Kandepag Kabupaten Balangan (2009) serta menjadi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan (2010). Setelah itu diangkat menjadi Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an Balitbang serta Diklat Kementerian Agama RI Jakarta (2014). Terakhir beliau menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kalimantan Tengah (2015-).
Dan setelah pensiun beliau lebih aktif dalam berdakwah melalui beberapa majelis taklim, dan juga dipercaya mengisi pengajian agama setiap Jum’at pagi di Majelis Ta’lim “al-Ma’arif” Amuntai.

Diantara kalam beliau:

“Ujar Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya : Ku anfusakum wa ahlikum naara (jagalah diri kamu dan keluargamu daripada api neraka). Kaya apa (seperti apa) menjaganya, dianjurkan “bi tarkil ma’ashi” yaitu dengan menjauhi berbuat maksiat lawan Allah Subhanahu wa ta’ala, “wa fi’li tha’at” yaitu dengan melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala, dan juga kita beri pendidikan akhlaq yang baik kepada anak-anak kita, dan diberikan pendidikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat kepadanya”

“Sebelum kita memasuki liang kubur, persiapkanlah pribadi kita masing-masing, (sebab) orang yang cerdas, orang yang baik adalah orang yang mempersiapkan diri untuk hari kematiannya”

“ingat lawan api neraka, kaya apa panasnya api neraka, kaya apa sakitnya (siksa) api neraka, ingat lawan itu termasuk daripada jihad. Artinya apa ? (yaitu( kaya apa cara kita menghindari api neraka, (yaitu dengan) perbuatan nang kada baik kita tinggalkan, perbuatan nang baik kita tingkatkan sehingga kita terhindar dari api neraka”

“(Kadang kita ini memikirakan) : “Aku ini (sudah) beribadah setiap hari, meminta lawan Allah Subhanahu wa ta’ala setiap hari, kenapa kada dikabulakan ? Nah, amun ada nang kada dikabulkan itu antara 2 (dua), yaitu bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala itu masih katuju mandangar do’a-do’a kita, masih ingin mandangar rintihan kita, masih ingin mandangar suara merdu kita atau nang kita itu kada didangar oleh Allah Subhanahu wa ta’ala mungkin ada beberapa masalah yang ada di dalam diri kita”

“Kita mendidik anak tu istilahnya bukan handak menjadi orang pegawai, (tapi) nang penting anak kita tu bias menuntut kepada ridha Allah Subhanahu wa ta’ala, melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala, kada (tidak) menyakiti lawan (dengan) kita selama di dunia. Ini, artinya, akhlaknya baik, sopan santunnya baik, nangini kaena (nanti) apabila kita kembali (meninggal) bertemu di negeri akhierat dalam keadaan menyenangkan hati”

“Apabila badapat (bertemu) lawan siapakah, badapat lawan polisikah, badapat lawan kejaksaankah, amun kita kada (tidak) bermasalah, kada takut. Tapi amun (jika) kita sudah ada masalah, lalu hati kita ini merasa kada nyaman, merasa tertekan dan sebagainya. Nah, kaya itu jua bila lawan Allah Subhanahu wa ta’ala, kita kada gaer, kita kadada istilah takutan karena kita senantiasa menggawi kewajiban agama. Jadi nang diperintahkan oleh Allah kita gawi, Insya Allah (jika) mati hari ini kita siap, atau jika dipanjangkan umur, kita juga siap karena kita kadada beban”.

“Jangan sekali-kali kita membanggakan dengan pemberian Allah Subhanahu wa ta’ala. Kenapa ? Karena menurut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bahwa siapa nang merasa hebat, merasa takabbur maka kaena orang itu direndahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Karenanya, orang yang merendah maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan meninggikannya pada hari kiamat”.

Amun bapadah kada wani lawan Allah Ta’ala tetapi orangnya kada manggawi perintah Allah Ta’ala, itu ngarannya kada takutan, itu pangaramput (pendusta), pendusta sampian. Orang nang kada wani lawan Allah Ta’ala itu adalah orang nang melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, itulah orang nang takutan.”

“Pendapat anak yang baik jangan kita remehkan, jangan kita sepelekan, tetapi perlu kita beri penghargaan kepada mereka”

“Amun pian parak (dekat) tuan guru. Nang mana amalan-amalan (yang) dipadahakan sidin, diamalkan, Insya Allah sampian akan mendapat rahmat di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Seperti pendapat Sufyan bin Uyainah : ‘inda dzikris shalihin tanzilur rahmah (ketika disebut nama orang-orang shaleh, maka turun beberapa rahmat Allah), maksudnya kada sekedar kita menyebut nama-nama waliyullah, tetapi, nangapa amalan-amalan nang kawa kita gawi, dan dengan kita menggawi amalan yang dianjurkan sidin, lalu kita mendapat anugerah rahmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala”.

“Orang yang mengingkari al-Qur’an, jangankan istilahnya orang yang sudah kafir, nang kita barataan ini, orang mukmin, tang tahu ada ajaran, ada ilmu yang disampaikan bahwasanya al-Qur’an ini bukan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Atau al-Qur’an ini adalah perbuatan manusia, ini yang diada-adakan haja, kada datangnya daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, berarti orang ini termasuk sudah orang yang murtad”.

“Taqwa itu banyak bertaqarrub kepada Allah”

“(meskipun) bertahun-tahun melaksanakan ibadah tapi karena hendak pamer, (atau) merasa lebih hebat, merasa lebih mantap daripada orang lain, maka (orang itu) tidak ditulis daripada ahlil ibadah”

“Kita yakin azab api neraka ada, (lalu) kaya apa kita mengatasinya, kaya apa kita menghindarinya ? Maka yang pertama kuncinya (adalah) jangan meninggalkan perintah Allah dan berusaha menjauhi larangan Allah. Ini adalah kunci yang paling utama untuk menghindari daripada api neraka. Melaksanakan perintah nangkaya (seperti) sembahyang, nangkaya puasa. Jangan seperti ayat  “wa la takuu nuu kalladzina nasuullaha fa’ansaahum anfusahum ulaika humul fasiquun” (Qs. Al-Hasyr (59) :19). Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, (seperti) kada ingat shalat, kada ingat dzikir, kada puasa, kada membaca qur’an dan sebagainya. Maka Allah melupakan akan dirinya, maka Allah akan melupakan kehormatan akan pribadinya. Maka orang itu keluar daripada taatnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala”

Amun kita (biasanya kita), pabila pina kosong ingat lawan Allah, apabila pina nyaman ingat lawan Allah, makinnya kita sakit rancak-rancak (sering-sering) ingat lawan Allah. Jangan sampai kita tatkala diberikan kenikmatan-kenikmatan yang berenaka ragam, kita kada ingat lawan Allah Subhanahu wa ta’ala”.

“Seperti bila kita pergi ke rumah bapak bupati, tentulah oleh bapak bupati kita akan dilayai. Demikian pula, supaya kita dihormati Allah SWT, maka jangan sampai kada (tidak) ingat tiap hari mailangi (mendatangi) rumah Allah SWT, baik masjid atau langgar”

“Dengan taqwa innsyaa Allah terselamat diri kita dari api neraka. Kemudian anak-anak kita bagaimana ? Kita selamatkan anak-anak kita dari api neraka dengan tarbiyatul shalehah, dengan pendidikan yang benar, pendidikan yang betul, pendidikan yang baik. Umur sudah 7 tahun kita didik anak kita supaya bisa sembahyang (shalat). Amun sudah 10 tahun kada (tidak) bisa sembahyang jua, maka kita pukul anak kita itu, (tapi) jangan memukul dengan kayu babangkih, artinya memukl itu untuk memberikan peringatan kepadanya bahwa meninggalkan shalat itu sangat berbahaya”

“Rasulullah Saw kadada (tidak ada) menyuruh agar rumah kita itu dihiasi dengan gombang (guci, keramik, dsb., pen), dihiasi dengan beraneka ragam barang antik, tidak ada. Tapi Rasulullah saw menjelaskan kepada kita barataan (semuanya), Zayyinuu buyuutakum bi shalah, hiasilah rumah-rumah kamu sekalian dengan shalat. Bayangkan! “

“Sejelek-jelek orang kita (Islam) lebih baik untuk menjaga (mengurusi) kemaslahatan kita”.

“Pemahaman ummat yang kuat dan taat terhadap ajaran agama merupakan basis pertahanan yang penting dalam mengantisipasi masuknya berbagai aliran atau pemahaman sesat terhadap agama itu sendiri”