Kamis, 02 Juli 2020

Ustadz AHMAD DANAU



Guru Ahmad Danau Panggang adalah Khadimul Majelis “Ar-Rayhan” Danau Panggang. Beliau telah berceramah hingga ke luar propinsi, bahkan sudah sampai ke Tembilahan Riau.

Diantara kalam beliau: 

“Diriwayatkan dari Sayyidina Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Innamal a’malu binniyyat, sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya. Maka kalau kita duduk di majelia ilmu, yang pertama kita niatkan untuk menghilang kejahilan kita, kebodohan kita, hanyar menuntut ilmu, hanyar membaca kitab lawan tuan guru, hanya belajar membaca al-Qur’an. Kedua, apabila kita duduk dimajelis ilmu atau majelis taklim maka itu dalam rangka taqarrub ilallah, mendekatkan diri kepada Allah. Karena, tidak ada satupun, kata Allah Subhanahu wa ta’ala, yang menghampirkan dirinya kepadaKu, maka Aku akan menghampirkan diriKu kepada hambaKu tersebut. Yang ketiga, adalah dalam rangka taqarrub mendekatkan diri kepada Rasulullah.”

“Apabila ada diantara ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, ada yang membaca(kan) shalawat dan salam kepada beliau, maka Rasulullah akan memintakan ampunan, dengan berdo’a : Ya Allah ampuni dosa-dosa ummatku ya Allah. Maka bila Rasulullah berdo’a : Allahummaghfirli ummati. Ya Allah ampuni ummatku yang mangganang lawan aku. (kemudian) ujar rasulullah : Allahummarham  ummati. Ya Allah berikan kasih dan sayang kepada ummatku yang gemar bershalawat kepadaku. (maka) bila Rasulullah tu mengangkat tangan memintakan ampun lawan Allah ta’ala, maka pasti do’a Baginda Rasulullah dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala”.

Ustadz H. AINI


Ustadz KH. Aini Hadi adalah salah seorang da’i dari Danau Panggang, Amuntai, Kalimantan Selatan. Pengasuh Majelis “Abuya Syifa” Danau Panggang ini adalah pendidik di Pondok Pesantren “Nurussalam” Danau Panggang. Telah berpulang ke rahmatullah 14 Februari 2023 (bertepatan dengan 23 Rajab 1444 H).

Diantara kalam beliau:

“Bila kita ini kawa bakti lawan kuitan (orang tua), maka Allah tinggikan derajatnya. Allah tinggikan derajat kita, bahkan lebih tinggi daripada derajat para Nabi-Nabi bani israil. Kenapa? Karena ujar Rasulullah : “ulama-ulama dari ummatku itu seperti para nabi-nabi bani Israil”. (maka) apabila kita hormat lawan kuitan, maka Allahpun menghormati lawan kita. Bila kita bakti lawan kuitan, maka Allah mengampuni dosa-dosa kita. Dan siapapun yang menghina kuitannya, pasti terhina kehidupannya di dunia. Bila kita kada perduli lawan kuitan kita, makankah sidin kadakah, kaya apa keadaan sidin kada perduli, maka Allah juga kada perduli lawan kita. (sehingga) apabila kita menghatiakan mama kita, atau memperhatiakan abah kita, maka pahalanya ganal. Rugi jar Jibril, orang nang baisian kuitan masih hidup, tetapi hal itu tidak menyebabkan inya itu sejahtera didunia hidupnya”.

“Bila kita basalaman dengan tuan guru atau wali yang mana hajakan, pahalanya 100 pahala ditambah 100 dosa dihapus dan 100 jua derajat dinaikkan. Semakin rancak kita basalamaan dengan ulama , sebagaimana kita basalaman dengan orang alim, maka semakin tinggi derajat kita.  Jadi salah satu kifarat menghilangkan dosa itu adalah basalaman dengan tuan guru. Namun, apabila orang itu basalaman lawan umanya, basalaman lawan abahnya seumpama keduanya masih hidup lalu basalaman, maka lebih besar lagi pahalanya, lebih besar lagi derajatnya daripada bersalaman dengan 40 tuan guru. Jadi basalaman dengan mama tinggi banar pahalanya, tapi bukan berarti kada mambariakan basalaman lawan tuan guru”.

“Amun kita tu nah berdo’a kada sing kabulan, bahajat kada kabul-kabul, baniat kada sing kabulan, maka cari-i (teliti) dosa-dosa kita lawan mama, cari-i dosa kita lawan abah, kalau-kalau waktu anum pernah tajawab. Misalnya, kita hidup kada nyaman, hidup sakit hati, ba-isi anak mambala, ba-isi anak kada pa-asian, disuruh bangun malandau guring, dan lain-lain. Itu pasti ada dosa kita lawan uma, ada dosa lawan abah. (maka) seumpama abah wan mama mati, maka ziarahi kuburnya dan mintakan istighfar : Rabbighfirli wali walidayya, Ya Allah ampuni dosaku dan dosa umaku dan dosa abahku. (Supaya) sekira kita itu termasuk orang nang bakti lawan kuitan”.

“Amun kita handak nyaman kehidupan, handak nyaman hati, hendak mati husnul khatimah, lamun kita handak supaya didalam kubur nyaman, didalam kubur tarang, didalam kubur luas, amun kita handak masuk sorga, handak derajat yang tinggi, maka baktilah lawan mama, baktilah lawan abah”.

KH. ABDURRAHIM, Lc



KH. Abdurrahim Azhari Dahlan, Lc lahir di Telaga Silaba, Kecamatan Amuntai Selatan, Minggu, 12 Januari 1958 M (Bertepatan dengan 20 Jumadil Akhir 1377 H). Beliau adalah Imam Mesjid “Rasyidiyah” Telaga Silaba. Aktifitas memimpin dan mengisi Majelis taklim “Hidayatus Shalihin” Bajawit dan Majelis Taklim “Tafaqquh Fiddiin” Telaga Silaba. Beliau juga adalah pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Hulu Sungai Utara sebagai Ketua Komisi Pendidikan, Kaderisasi, Pengkajian dan Penelitian.

Diantara kalam beliau:

“Arti cinta kepada Allah (adalah) napa nang disuruh Allah digawinya (dikerjakannya). Seperti seseorang yang cinta kepada bini (istri). Ujar bini : amun pian kepasar tukarakan napakah. Tantunya harus di i-ingatakan ai. Mun kada ingat pas sampai karumah ditakuni : mana tadi, jadi manukarlah ? Orang yang cinta lawan bini pasti inya babulik kepasar manukarakan yang dikahandakinya. Demikian pula dengan seseorang yang cinta lawan Allah. Apabila jar Allah sembahyang, maka kerjakanlah sembahyang. Jar Allah puasa, puasa. Jadi napa nang disuruh Allah dikerjakannya”.

“Taqwa ujar orang bahari adalah menjunjung perintah Allah, menjauhi larangan Allah. Dijunjung, diangkat, dihormati perintah Allah Subhanahu wa ta’ala itu. Sebagaimana bunyi ayat 18 didalam surat al-Hasyr : “Ya ayyuhalladziena amanuttaqullaah wal tandzur nafsun maa qaddamat lighat, wattaqullah, innallaha khabirum bima ta’malun”. Dimana dalam satu ayat disebut 2 kali kata ittaqullah-nya. Maknanya kuat sekali artinya, (yaitu) : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Kemudian, pada ayat ke-19 berbunyi:  wa la takunu kalladzina nasullaha fa ansahum anfusahum, ula ika humul fasiqun”. (artinya) : Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang Allah lupakan, atau seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga dilupakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap dirimu. (Kemudian) ula ika humul fasiqun. Bila kita kada ingat dengan Allah, kada ingat lawan kejadian diri kita, maka orang sedemikian digolongkan sebagai orang fasiq, berbuat kesalahan. Ketahuilah, penghuni sorga kada sama lawan penghuni neraka. Penghuni neraka banyak siksa-siksa yang dihadapinya. Sedangkan penghuni sorga tergambar dalam bunyi ayat : inna lilmuttaqina mafaaza .... (Qs. An-Naba ayat 30-36) sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa benar-benar mendapatkan keberuntungan, diberi kebun-kebun dan korma, diberi bidadari yang jelita.”

“Maksud dari “wa ma ta akhar” (diampuni dosanya yang terkemudian) adalah tatkala orang ada berbuat kejahatan, maka saurang (diri pribadi) kada taumpat babuat kejahatan. Artinya dijaga, dipelihara oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Itu maksud dari “wa ma ta akhar”.

“Umar bin Khattab pernah ditakuni oleh 3 orang Yahudi : wahai Amirul Mukminin, pabila pintu langit ditutup dan pabila pintu langit dibuka ? Lalu Umar menanyakan kepada Ali bin Abi Thalib. Sebab mengenai Ali bin Abi Thalib ini, Rasulullah pernah baucap, jar Rasulullah bila ikam handak ilmu pengetahuan, maka Ali itu kuncinya, artimya Ali itu baya ilmunya. Lalu dijawab oleh Ali : “Pintu langit dibuka apabila orang mengatakan “La ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah”. Bila sudah kadada lagi yang mengucapkan kalimat tersebut, maka pintu langit akan ditutup, pacaangan kiamat”. Jadi selama kita melaksanakan dzikir La ilaaha illallah, maka tidak akan kiamat, tidak akan ditutup pintu langit”.

“Terlarang atau haram bagi masyarakat atau seluruh ummat Islam untuk belajar agama kepada orang yang bukan ahlinya, dengan dasar dan alasan diantaranya, firman Allah Subhanahu wa ta’ala : “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” (QS. Az- Zumar ayat 9), kemudian berdasar firman Allah Subhanahu wa ta’ala : “Bertanyalah kepada orang yang tahu jika kalian tidak tahu” (QS. An-Nahl ayat 43).

“Berhati-hatilah, karena disinyalir adanya faham atau ajaran yang menyimpang dari agama seperti tidak shaat lima waktu, tidak berpuasa ramadhan, tidak shalat jum’at, dan hal-hal yang serupa yakni berhakikat tanpa syari’at, perbincangan mereka selalu kepada ilmu ketuhanan, nur Muhammad, ilmu hakikat, ilmu bathin, dan seterusnya”.

“Jika ada yang beranggapan, bahwa Baitullah itu segi empat, sehingga (menunjukkan) 4 arah, yakni depan, belakang, kiri, kanan dapat dijadikan arah shalat. Kemana saja kamu menghadap disana ada Allah. (maka) sebenarnya pendapat yang seperti ini tidak ada didalam imam mazhab”.

KH. MASRUNI



KH. Masruni lahir di Babirik, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, pada tahun 1967 M. Berlatar belakang pendidikan Pondok Pesantren yang kental dengan ilmu keagamaan, sekaligus al-Qur’an. Pendidikan Tingkat Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah beliau selesaikan di Amuntai, sedangkan untuk tingkatan Madrasah Aliyah beliau melanjutkannya ke Banjarmasin.
Tamat dari Aliyah beliau masuk Sekolah Tinggi Ummul Qur’an di Banyu Anyar, Banjarmasin, tetapi tidak mencapai satu tahun sekolah tersebut ditutup karena penanggung biayanya meninggal. Tidak berhenti disitu, beliau kemudian melanjutkan menimba ilmu ke Pesantren “Riyadhusshalihin” Barabai, dengan fokus pada tahfizh al-Qur’an. Di pesantren ini cita-cita masa kecil beliau tercapai dengan menguasai tahfizh 30 Juz dan mendapatkan sanad. Tamat dari pesantren “Riyadhusshalihin” Barabai, kembali menjadi santri di Pondok Pesantren Tahfizh al-Qur’an (PPTQ) “Manbaul Furqan”, Luewiliang, Bogor, Jawa Barat.
Guna memantapkan hafalan dan mendalami ilmu al-Qur’an, beliau pernah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. Setelah itu, beliau ikut mengajar tahfizh al-Qur’an di Madrasah “al-Hikmah” Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Untuk lebih memantapkan hafalannya beliau mondok ke Pondok Pesantren “al-Hikmah” Benda, Brebes, Jawa Tengah. Di Pesantren ini beliau men-taqrir-kan hafalannya kepada KH. Aini, KH. Syarifuddin dan KH. Mukhlas selama 6 bulan, dan mendapatkan ijazah dari pesantren ini, dan menurutnya sanad para guru huffaz pesantren ini bersumber dari KH. Muhammad Arwani, Kudus, Jawa Tengah.
Sekarang beliau menjadi pengelola pesantren tahfizh al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) KH. Harun Nafsi, Jl. Cipto Mangunkusumo, Gang Mesjid, Desa Harapan Baru, Samarinda Sebrang, Kalimantan Timur.
Di PPTQ KH. Harun Nafsi ini, beliau menerapkan suatu cara untuk diri dan para santrinya yang telah hafal 30 Juz, dengan metode/ cara “fami bisyauq” yang secara harfiah berarti “Lisan saya selalu dalam kerinduan”. Maksud “kerinduan” disini adalah rindu untuk membaca al-Qur’an. Kalimat tersebut, disamping mempunyai arti secara kalimat, masing-masing hurufnya juga mempunyai arti tersendiri yaitu :
1.     Fa’ sampai mim, maksudnya memulai hafalan al-Qur’an hari pertama dari surah al-Fatihah sampai al-Maidah
2.     Mim sampai ya’, hari kedua melanjutkan hafalan dari surah al-Maidah sampai surah Yunus
3.     Ya’ sampai ba’, hari ketiga melanjutkan hafalan dari surah Yunus sampai surah Bani Isra’il
4.     Ba’ sampai syin, hari keempat melanjutkan hafalan dari surah bani Isra’il sampai surah asy-Syu’ara
5.     Syin sampai waw, hari kelima melanjutkan hafalan dari surah Asy-Syu’ara sampai surah as-Saffat
6.     Waw sampai Qaf, hari keenam melanjutkan hafalan dari surah as-Saffat sampai surah Qaf
7.     Qaf sampai khatam, hari ketujuh melanjutkan hafalan dari surah Qaf sampai surah an-Naas (khatam).