KH. Muhammad Ramli bin H. Qasim adalah salah seorang ulama yang berasal dari desa Lok Soga, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Beliau lahir pada hari Senin, 22 Juni 1863 (bertepatan dengan 6 Muharram 1280 H).
Bermula dari suatu mimpi, dimana tersiar kabar bahwa KH. Dja’far Saberan (orang Amuntai yang menjadi ketua MUI di Samarinda) meninggal dunia. Maka banyaklah orang takziyah. Hingga ada pengumuman dari panitia, yang berkata, “mana ulama dari Amuntai ?”. Sekilas kulihat dalam tulisan dikertas ada nama KH. Said Masrawan, Lc., MA (Ketua MUI Kab. HSU). Wallahu a’lam.............. Sufyan bin Uyainah ra berkata: عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة "ketika menyebut orang-orang sholeh akan bercucuran rahmat"
KH. Muhammad Ramli bin H. Qasim adalah salah seorang ulama yang berasal dari desa Lok Soga, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Beliau lahir pada hari Senin, 22 Juni 1863 (bertepatan dengan 6 Muharram 1280 H).
Ustadz A. Muhiddin, adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Kutai Kecil, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Diantara kalam beliau:
“Kalau bulan rajab adalah Syahrullah. Rajab itu bulannya Allah Ta’ala. Sya’ban itu adalah Syahri. Bulan Sya’ban itu adalah bulanku (Nabi). Jadi bulan Sya’ban itu banyaki bershalawat, karena itu bulan Rasul. Kata Guru Sekumpul, para wali-wali diangkAT PADA BULAN Sya’ban. Orang ini misalnya diangkat jadi wali di bulan Sya’ban. Kalau bulan Ramadhan itu adalah Syahru Ummati, bulan ummatku, bulannya ummat Rasulullah. Kita nang ampunnya. Ibarat bini (istri) tu kita ampunnya (memilikinya). Handak kita apa-ikah, jahat kita jua, nang baik kita jua ujungnya. Banyaki, sadangi, dikiti, tasarah kita”.
“Agama itu harus dirasa dimiliki oleh orang sabarataan (semuanya), bukan untuk orang arab saja. Artinya, orang ke padang (ladang), kawa sembahyang dengan pakaian kepadangnya. Polisi kawa sembahyang dengan pakaian polisinya. Pegawai kawa sembahyang dengan pakaian pegawainya. Jadi agama itu Kaffata linnaas, untuk orang banyak. Bukan menyusahkan, bukan menyulitkan. Jadi agama itu menyenangkan, mudahkan jangan dipersulit, gembirakan orang jangan diberi sedih”.
Ustadz Abdul Latif, adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Kota Raden, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Diantara kalam beliau:
“Puasa ini ternyata banyak manfaatnya bagi kita. Banyak Sirr dan rahasia didalam berpuasa. Maka diantara Sirr dan rahasia puasa yang di komfirmasi dalam kitab Sairus salikin karangan Syekh Abdussamad al-Falimbani, ujar sidin (beliau) yang menterjemahkan kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghazali, (dimana) rahasia puasa itu salah satunya terletak pada laparnya”.
“Shalat itu amalannya malaikat. Sejak takbiratul ihram sampai salamnya itu amalannya para malaikat. Kita ini berpotensi mengsamalkan amalan-amalan para malaikat, yang salah satunya adalah juga berpuasa. Jadi tambah lapar kita tambah bagus. Karena kata Syekh Abdussamad al-Falimbani, rasa lapar itu dapat membarasihi hati, yang mana hati itu terhubung kepada rohaniah seseorang”.
“Ingat mati dapat memotivasi kita untuk beramal shaleh, dapat memotivasi kita untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala”.
Guru Supiani, adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Diantara kalam beliau:
“Diceritakan : Ada seorang aulia Allah Ta’ala, seorang wali, di takuni (tanya) oleh malaikat Izrail. Izrail batakun : wahai aulia Allah Ta’ala, jikalau ikam diberi umur beberapa saat lagi ikam mati, apa nang ikam gawi? Aku jar handak berwudhu lalu sembahyang sunnat. Pas sembahyang sunat lalu dicabut malakal maut, baik. Aku handak membaca al-Qur’an, baik. Aku handak berdzikir, baik. Tapi apa jawaban aulia Allah tadi : “Aku handak menggunakan dalam waktu yang singkat itu untuk dapat hadir di majelis ilmu agama”, Karena orang yang hadir di majelis ilmu agama itu, yang pertama mendapatkan do’anya malaikat, dan yang kedua, orang itu dalam keadaan tawadhu’ kepada Allah Ta’ala. Kenapa? Karena orang yang menuntut ilmu itu menampakkan gayanya itu kerendahan diri kada bailmu hakun (mau) duduk, kada ba-isi pendapat hakun duduk”.
“Kata Imam Ghazali, apabila hendak melihat kuatnya iman seseorang, harkatul jismi ‘ala ta’at, awaknya itu rancak dipergunakan dalam perbuatan ta’atUstadz H. Ridha Makky, adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Lok Bangkai, Kecamatan Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Diantara kalam beliau:
“Ilmu agama (adalah) ilmu yang bermanfaat. Apa itu ilmu agama, yaitu ilmu (yang) mempelajari ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu akhlaq atau ilmu tasawuf. Yang 3 macam ini wajib bagi orang muslim nang beriman, nang baligh beraqal itu untuk menuntut ilmu yang 3 macam tersebut. Ilmu tauhid ilmu mengenal, mengetahui, meminandui siapa yang kita sembah. Kemudian ilmu fiqih yaitu carabnya kita beribadah, kemudian ilmu tasawuf adalah nangkaya apa supaya jangabn rusak ibadah itu”.
“Ibadah yang paling afdal adalah mengaji ilmu agama. Bila kita mengaji ilmu agsama maka itu paling afdal ibadah kepada Allah”.
“Apabila banyak niat kita (untuk ibadah), maka banyak pahalanya”.
Guru Fadlillah bin Guru KH. Ruslan, adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Teluk Paring, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Diantara kalam beliau:
“Ketika seseorang itu berilmu, ketika seseorang itu berakhlaq baik, (maka) inilah derajat yang diangkat oleh Allah, karenanya (dia) berilmu, karenanya (dia) berakhlak bagus, tetapi yang memberi ilmu, memberi akhlaq, memberi kawa (kemampuan) beramal shaleh siapa? Allah ! Berkat Allah Ta’ala kita ini diangkat derajat. Jadi kita ini harus ada dalam diri rasa khauf, takutan, dan ada rasa raja’, mengharap. Sifat Raja’, mengharap mudah-mudahan amal yang diberi Allah senantiasa terus menerus, mudahan rezeki yang diberi Allah senantiasa tyerus menerus. Dan juga harus ada Khauf, takutan kalau dicabut, takutan kalau diambil, takutan kalau kada sampai ke akhir hayat. Yang kaya (seperti) ini nah kita takutan”.
“Ada 4 sifat yang menurut Imam Junaid, seseorang itu diangkat derajatnya sekalipun sedikity amal dan sedikit ilmunya, (yaitu) pertama, orang yang kada penyarikan, hilm. Kedua, orang yang tawadhu’, merasa kada lebih hebat daripada orang lain. Ketiga, yaitu Sakha, pemurah, dan Keempat, Husnul Khuluq, bagus kelakuan”.