Kamis, 06 November 2025

KH. Muhammad Ardhy Hasyim

KH. Muhammad Ardhy bin H. Hasyim (Kai Unuk) lahir di Sungai Baru, Desa Kota Raja, Kecamatan Amuntai Selatan. Diantara guru beliau adalah Tuan Guru Syekh Seman Mulia (Paman/ Julak dari Guru Sekumpul) Martapura. Diantara teman-teman beliau, yang saling berguru dan kunjung-mengunjungi adalah Habib Abubakar bin Salim al-Habsyi (Basirih). Habib Abubakar ini sering Hadir di Majelis pengajian KH. Muhammad Ardhy di Ilir mesjid/ Ujung Murung Sungai Banar. Demikian juga dengan KH. Anang Ramli Haq (Bati-Bati) beliau saling kunjung mengunjunginya.

Pada tahun 1956 beliau menunaikan ibadah haji menggunakan kapal laut dan kembali berangkat pada tahun 1980 menggunakan visa turis.

Tuan Guu H. Muhammad Ardhy Hasyim mmbuka majelis pengajian pada setiap hari Selasa dan Sabtu. Jamaah dari Paringin, lampihong, Balangan, Amuntai dan sebagainya. Adapun kitab yang diajarkan atntara lain Kitab Aqidatun Najin, Hasyiah Bajuri, Hidayatus Shalihin, Tajul Muluk, dan sebagainya.

Diantara murid beliau yang kemudian juga menjadi tuan guru diantaranya KH. Abdul Wahab (Desa Kembang Kunbing), HM. Mukhtar Karim (Lampihong), H. Jamhuri, H. Basran, H. Yusuf (Pasar Amuntai) dan lain-lain.

Telah berpulang ke rahmatullah pada 30 Mei 1988 (bertepatan dengan 15 Syawal 1408 H) dimakamkan di desa Ilir Mesjid Pinggir Sungai.

Diantara kalam beliau:

“Jangan hiri (dengki) melihat orang yang kawa atau bisa menuntut ilmu agama ke sana kemari”

“Tauhidku ini tauhid-Nya jua, Zikirku ini dzikir-Nya jua”

Ustadz Syahlani

 


Ustadz Syahlani, lahir 9 Oktober 1974 adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Padang Luar, Kecamatan Amuntai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Nikmat yang paling besar itu adalah Allah Ta’ala mengutus Nabi kita ke alam dunia ini. Karena apa? Karena Nabi adalah sebagai rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya kepada kita orang Islam, bukan hanya kepada manusia, orang-orang lain juga dapat rahmat dengan diutusnya Nabi kita. Salah satu contohnya daripada rahmat diutusnya Nabi itu didalam fiqh diatur, kalau kita hendak qadha hajat (seperti) bakamih, kencing, itu dilarang bakamih pada suatu lobang. Kenapa dilarang? Karena didalam lobang itu ada makhluk Allah ta’ala yang lain, bisa semut atau jin. Nikmat ganal (besar) yang kedua adalah kita dilahirkan sebagai orang Islam, tidak (sebagai) orang kafir, tidak orang hindu, tidak orang kristen, atau sebagai budha, atau agama lain, tetapi Alhamdulillah lahir sebagai orang Islam. Abah kita Islam, Uma kita Islam, datu nini kita Islam jua, jadi kita ini Islam keturunan. Nikmat ganal yang ketiga adalah kita menjadi ummatnya baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam”.

“Nimat itu menjadi besar atau menjadi berharga adalah apabila telah hilang pada kita. Contohnya : bajalan bagi orang yang kena penyakit stroke. Nikmat itu juga menjadi besar apabila dicari-cari orang. Bila dicari-cari berarti nikmat itu berharga/ mahal. Contohnya : Nabi Musa kepingin menjadi ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam”.

Ustadz Muhammad Azra'i


Ustadz Muhammad Azra’i, adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Jarang Kuantan, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Silaturrahim adalah amalan untuk rezeki kita diluaskan oleh Allah, amalan buat umur kita diberkahi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Jadi, jangan sampai kita memutuskan silaturrahim satu sama lain, jangan sampai kita kada bararawaan (bertegur sapa)  satu sama lain”.

“Silaturrahim yang paling afdhal, paling bagus adalah duduknya kita di majelis ilmunya Allah Ta’ala, duduknya kita mencari warisan Nabi Besar Shallallahu ‘alaihi wasallam”.

“Perkumpulan dunia tidak ada artinya kalau tidak menghasilkan perkumpulan di sorganya Allah Subhanahu wa ta’ala. Perkumpulan yang tidak menghasilkan, membuahkan perkumpulan di sorganya Allah, maka perkumpulan itu akan menjadi penyesalan kita di akhirat”.

Ustadz Suriadi



Ustadz Suriadi, adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Kutai Kecil, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Anak atau harta yang tidak dididik atau tidak dilajari dengan ilmu agama, maka akan bersifat menjadi 3 (tiga), yaitu yang pertama, anak dan harta bila tidak dididik dengan agama akan menjadi perhiasan saja. Kedua, bila anak dan harta tidak didasari dengan ilmu agama, maka akan menjadi fitnah bagi kita. Ketiga, apabila sudah bersifat yang kedua, maka yang terakhir adalah harta dan anak akan menjadi musibah yang terbesar di negeri akhirat”.

Ustadz M Hidayatullah

 


Ustadz M Hidayatullah, adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Teluk Baru, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Rahasia Allah Ta’ala kepada manusia ini, daripada rezekinya, daripada jodohnya, daripada apapun yang kemudian itu menurut kita paling penting. Padahal yang paling penting rahasia Allah Ta’ala yang kita takutkan yaitu adalah rahasia tentang kematian. Kematian ini kada mahadang (tidak menunggu) kita tuntung hulu (selesai dulu), kada mahadang kita tuntung hulu merencanakan kehidupan”.

“Bbab tasawufnya apabila orang itu hendak mendapat kelezatan beribadah, kenyamanan beribadah. Kalau waliyullah ta’ala itu orang ma’rifat kepada Allah Ta’ala, jalan peertama yaitu adalah bertyaubat. Karena yang namanya taubat ini ialah bisa membukakan pintu rezeki”.

“Bila ada cahaya dihati, lalu kita ini ada tabuka hati gasan baibadah. Lalu napa pulang (apa lagi) ya dosa ini lalu kita ini bawa untuk beribadah. Artinya, dosa ini kita ganti yang namanya dulu kita ini suka menggawi macam-macam. Nah lalu kita ganti dengan beribadah, kaya apa haja ibadah kita jangan kita sombongkan. Itu adalah datangnya daripada Allah Ta’ala. Orang itu sudah beriman dan orang itu ta’at kepada Allah Ta’ala. Diaitu termasuk orang yang beruntung”.

Jumat, 05 September 2025

KH. Muhammad Arsyad (Rumpiang)



KH. Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Dakkan Noor, lahir di Tangsawa (Pematang Sawah) Amuntai, Senin, 3 Januari 1916 (bertepatan dengan 27 Shafar 1334 H), sekitar 10 km dari pusat kota.  Kh. Muhammad Arsyad disebut juga Guru Tuha Rumpiang, mempunyai 2 orang saudara, yaitu Muhammad Syahdan (Guru di Tatah Amuntai) dan KH. Muhammad Zuhri.

Berlatar belakang pendidikan madrasah, di samping banyak mengaji “duduk” terutama dengan Syekh Sulaiman Wali (Desa Pakacangan) dan di Nagara.

Pada masa pendudukan Jepang, beliau pindah ke Rumpiang. Pada masa remaja, beliau berguru ke Darussalam Martapura terutama dengan KH. Syaikh Kasyful Anwar. Kemudian mengaji duduk dengan KH. Zainal Ilmi (Dalam Pagar), lalu kembali ke Rumpiang dan mengajar di Madrasah Tarbiyah al-Islamiyah (sekarang MIN 5 Banjar)  yang dipimpin langsung oleh beliau sebagai Kepala Madrasahnya.

Di bawah pimpinan panglima perang Hasan Basri, beliau ikut berjuang di aluh-aluh, kurau dan plaihari.

Telah berpulang ke rahmatullah pada tahun 1992 ( 1412 H).

Diantara pesan-pesan beliau:

“Hormatilah, muliakanlah  orang tuha, kuitan”

"Muliakanlah guru-guru yang mendidik kita"

"Kabulkan hajat semua orang selama kita kada uzur untuk mengabulkannya"

 

KH. Muhammad Rasyid


KH. Muhammad Rasyid bin H. Ludin lahir di desa Pajukungan, kecamatan Babirik, kabupaten Hulu Sungai Utara. Diperkirakan beliau lahir disekitaran tahun 1899 atau diawal tahun 1900-an.

Semenjak kecil sudah menjadi yatim piatu, sehingga beliau berada dalam pengasuhan keluarga. Sebagaimana kebiasaan anak-anak pada masa itu, beliau belajar mengaji al-qur'an dengan H. Sulaiman di desa Pajukungan. Ketika remaja beliau berguru ke Nagara (kabupaten Hulu Sungai Selatan( dengan hanya berjalan kaki dari desanya untuk menimba ilmu dengan tuan guru H. Srpan, tuan guru H. Samad Jagain Nagara, dan dengan tuan guru H. Abdurrahman. Sedangkan di Amuntai beliau berguru dengan KH. Ahmad Sungai Banar, KH. Muhammad dan KH. Abdur Rasyid. 

Atas bantuan keluarga dan para dermawan, beliau berangkat ke Mekkah untuk berguru terutama dengan Tuan Guru Said Yamani, untuk mem,pelajari berbagai keilmuan seperti ilmu fiqih, ilmu tafsir, nahwu dan sharaf, hadits dan juga ilmu kewarisan (Faraid). Setelah 5 tahun mukim di Mekkah, beliau kembali ke kampung halaman dengan membuka majelis taklim yang bernama “Majelis Rasyidah”. Pada tahun 1969, beliau kembali menunaikan ibadah haji dengan membawa istri dan anak beliau yang bernama H. Muhammad Noor Rasyid (Mantan Kepala Urusan Agama (KUA) Kecamatan Babirik).

Diantara murid-murid beliau yaitu Gusti Imansyah (Guru Murad) Ponpes Darussalam Martapura, Gustu Romansyah (Jambu Burung),  KH. Abul Hasan (Sungai Turak), H. Muhammad Sapri (Babirik), H. Khaidir Ahmad (Babirik),  sedangkan dari pulau jawa diantaranya H. Sabran (Imam Mesjid Sidoarjo) dan Ahmad Bakri (Gempol, Jawa Timur).

Berpulang ke rahmatullah tepat pada hari raya ‘Idul Adha, senin, 13 Januari 1977 (bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1392 H). Di makamkan di Desa Pajukungan.