Kamis, 04 Juni 2026

Ustadz Bahruddin, S.Pd.I

 


Ustadz Bahrudin, S.Pd.I, lahir di Desa Palimbangan, Kecamatan Haur gading, Kamis, 26 Agustus 1976 M (bertepatan dengan 1 Ramadhan 1396 H).

Berlatar belakang pendidikan dasar Madrasah Ibtidaiyah di Palimbangan, Madrasah Tsanawiyah PPS al Hikmah, dan Pondok Pesantren Raudhatul Muta’allimin, Haur Gading. Beliau kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu alQur’an (STIQ) Amuntai Jurusan Bahasa Arab (lulus 2013).

Sekarang beliau mengajar di Pondok Pesantren “Raudhatul Amin” Desa Teluk Baru, dan Pondok Pesantren “Al Karamah”, serta menjadi guru di Madrasah Tsanawiyah “Zadul ma’ad” Desa Galagah.

Diantara kalam beliau:

“Tanda orang yang baik sangka dengan  Allah (adalah) dimana orang itu senantiasa menjauhi perbuatan maksiat, menghindarkan perbuatanperbuatan maksiat, yang tentunya, baik itu maksiat zahir maupun yang bathin, serta mereka itu takut akan siksa Allah dan dia bersungguh sungguh dalam berkhidmat atau beribadah kepada Allah”.

“Kalau pamakan kada kita jaga, kada apik, kada wara’, maka itu akan membawa kedalam hati kita pemikiran pemikiran nang kada baik, maka timbullah pekerjaanpekerjaan nang kada baik”.

“Dalam ushul fiqih, apabila perkara itu sudah menjadi mudharat, musaqqat, maka yang haram tadi bisa menjadi halal. (Contohnya), misalnya, sudah menjadi tradisi di kampung (seperti) orang memutik kangkung, mamutik patiyol di padang. Atau mamasang ringgi, memasang lukah. (Biasanya) kita manukar iwak kada batakun (bertanya) ikam/ pian mencari dimana? Di pahumaan orang misalnya. Nang mencari, kita manukari, sama tu hukumnya. Mun nya (apabila) haram berarti tamakan nang haram kita ini. Maka lalu ulama : oleh karena itu sudah menjadi darurat, sudah musaqqat, maka kita ini kada kawa lagi, maka hukumnya jadi boleh”.

“Musibah terbesar bagi seorang perempuan yang shaleh, perempuan yang alim, yang berilmu, musibah terbesarnya adalah ketika mempunyai suami yang jahil”

“Dosanya kita menguya (mengghibah) orang alim atau ulama, orang yang mengerti al Qur’an, orang yang faham dari segi agama, kita “kuya” sidin, maka dosanya lebih besar daripada kita menguya orang awam”.

Ustadz H. Khairil Muzakki, Lc

 


Ustadz H. Khairil Muzakki, Lc lahir Sabtu, 26 September 1981 (bertepatan dengan 27 Zulqa’dah 1401 H). Berlatar belakang pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Alabio (lulus 1993). Madrasah Tsanawiyah “Darul Hijrah” Martapura (1996), Madrasah Aliyah “Darul Hijrah” Martapura (1999). Kemudian melanjutkan kulaih ke alAzhar Mesir (lulus 2005).  Sekarang Ketua majelis Tarjih Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Agar hati, roh kita ini tetap terjaga kesuciannya, (maka) kita tetap perlu mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala. Bagaimana cara mengenal Allah, (maka) kenali dulu diri kita masingmasing. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu. Barangsiapa yang bisa mengenali dirinya maka dia akan mampu untuk mengenal Tuhannya. (Seperti) kita ini hidup. Siapa yang menghidupkan  ? Kita ini bisa hadir ke mesjid untuk shalat jama’ah dan thalabul ‘ilmi, siapa yang memberikan kesempatan, siapa yang memberi kemampuan? Kita bisa ini bisa itu, siapa yang memberi rezeki lawan kita? Kemana akhirnya kita ini nanti akan kembali? Nah (dengan itu) tentu kita akan menyadari, merenungi dan meresapi bahwasanya kita ini adalah hamba Allah yang wajib mengabdi kepadaNya, yang wajib beribadah kepadaNya. Kita serahkan ibadah kita (seperti ) shalat kita, mati kita hanyalah milik Allah, maka niscaya kita akan mampu mengenal Rabb, mengenal Tuhan kita”.

“Kemudian agar roh kita ini menjadi fitrah adalah Mahabbatullah, cinta kepada Allah. Bagaimana caranya kita mencintai Allah? Cara kita mencintai Allah adalah dengan cara mengenal tauhid, mengenal uluhiyyah Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal asma wal shifat Allah Subhanahu wa ta’ala. Hendaknya kita jadikan Allah satusatunya zat yang paling kita cintai”.

Atutkah kita cinta kepada apa yang kita miliki sementara kita tidak cinta kepada orang yang memberikan semua itu kepada diri kita. Maka, ketika kita mampu Mahabbatullah. Ma’rifatullah, tauhidullah, insya Allah kesucian fitrah qalbiyah, fitrah ruhiyah niscaya akan didapatkan oleh setiap diri kita masing masing”.

Ustadz Saprudin

 


Ustadz Saprudin lahir di Sungai Durait Hulu, Kecamatan Babirik, pada Selasa, 15 Juli 1986 (bertepatan dengan 8 Zulqa’dah 1406 H). Berlatar belakang pendidikan Pondok Pesantren “Darul Amin” Daha Nagara, Kabupaten Hulu Sungau Selatan selama kurang lebih 10 tahun. Pulang mondok pada 2019 kemudian berinisiatif mendirikan majelis taklim “Raudhatul Mubarak”.

Diantara kalam beliau:

“Orang-orang tabi’in, keimanan mereka kuat membaja kepada Allah. I’tikat mereka, keyakinan mereka, aqidah mereka tidak dapat ditukarkan dengan sesuatu apa juapun. Pedang ada di leher mereka untuk melepaskan aqidah ketuhanan, ketauhidan ma’rifat, biar mereka terpotong leher mereka, tetap (mereka) tidak melepaskan aqidah, keyakinan, bertauhid dan berma’rifat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Inilah iman orang-orang salafus shaleh”.