Sabtu, 16 Mei 2026

Ustadz Muhammad Rafi, S.Ag, M.Ag

 


Ustadz Muhammad Rafi, S.Ag, M.Ag dilahirkan di Desa Kaludan Besar, Kecamatan Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sedari kecil beliau telah mendalami ilmu agama di madrasah dan di surau. Kemudian, secara formal bersekolah di Pondok Pesantren “Rasyidiyah Khalidiyah” (Rakha) Amuntai hingga tingkatan Madrasah ‘Aliyah (tingkat ulya).

Selesai mondok, beliau melanjutkan kuliah ke Universitas Islam Negeri “Sunan Kalijaga” Yogyakarta mengambil program studi Ilmu alQur’an dan Tafsir. Selagi di Yogyakarta tersebut beliau menyempatkan belajar di Pondok Pesantren LSQ ar Rohmah, dengan memperdalam berbagai disiplin keilmuan, terutama dalam bidang al Qur’an dan tafsir.  Setelah menyelesaikan program sarjana, beliau kemudian melanjutkan ke Universitas Islam Negeri “Antasari” Banjarmasin dengan mengambil program Magister pada bidang Studi Ilmu Tasawuf dan cabang cabangnya, dibawah bimbingan Prof. DR. H. Mujiburrahman, MA dan Prof. DR. H. Asmaran As, MA.

Sebagai seorang Penyuluh Agama Islam di kementerian Agama Kotabaru, Kalimantan Selatan, beliau aktif  berdakwah secara formal maupun non formal, seperti mengisi majelis taklim, khutbah jum’at, dan juga berdakwah melalui tulisan.

Diantara kalam beliau:

“Secara sederhana, orang orang memahami bahwa alam sekitar diciptakan untuk kemakmuran manusia. Pandangan ini tidaklah keliru karena didasarkan pada dalildalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, pada praktiknya, sering terjadi keserampangan dan penyelewengan yang menghantarkan pada kerusakan alam. Oleh sebab itu, penting kiranya bagi kita untuk merefleksikan ulang hubungan manusia dengan alam sekitar. //

Bagi umat Islam, alam merupakan karunia Allah Subhanahu wa ta’ala, yang memiliki berbagai hikmah dan tujuan yang tak terhingga. Salah satu dari tujuan tersebut adalah menjadi wasilah bagi kemakmuran manusia. Bahkan, manusia pada hakikatnya diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, yakni orang yang bertanggungjawab mengelola bumi secara bijaksana.//

Tidakkah engkau memeperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu (manusia) apa yang ada di bumi dan kapal yang berlayar di lautan dengan perintah Nya. Dan Dia menahan (benda benda) langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin Nya. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia (Qs. Al Hajj : 65)

Secara umum, surah alHajj ayat 65 menginformasikan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah menundukkan bagi manusia berbagai hal yang ada dibumi, lautan dan angkasa raya. Dengan menundukkan alam, manusia dapat mengambil manfaat darinya seperti memanfaatkan lautan sebagai sarana transfortasi. Semua itu dilakukan sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa ta’ala kepada manusia”

Lantas bagaimana manusia sebaiknya memanfaatkan alam ? jawaban paling logis berdasarkan dalil dalil tersebut di atas adalah dengan memanfaatkan alam secara sadar, penuh tanggungjawab dan berlandaskan keseimbangan (moderat). Dengan kata lain, manusia sebaiknya memanfaatkan alam secukupnya dengan meminimalisir kerusakannya.//

Manusia tidak boleh mengeksploitasi alam secara berlebihan, apalagi itu dilakukan demi kepentingan pribadi semata. Namun bukan berarti manusia tidak boleh memanfaatkan alam. Posisi pemanfaatan alam haruslah ditengah tengah antara tidak boleh dan berlebihan laksana sikap dermawan yang berada di antara ssikap boros dan kikir.//

Selain itu, penting untuk diingat bahwa meskipun manusia dibolehkan untuk memanfaatkan alam, namun hakikatnya mereka bukanlah pemilik alam. Manusia hanyalah khalifah di muka bumi, yakni orang yang diberi wewenang untuk mengelola bumi. Setiap wewenang tentu akan dipertanggungjawabkan di akhirat.// (Muhammad Rafi, S.Ag, M.Ag, “Merefleksikan ulang hubungan manusia dengan alam”, dipetik dari artikel Cari Ustadz.Id)

KH. Subdillah

 


KH. Subdillah adalah salah seorang tuan guru dari Desa Murung Panti Hilir, Kecamatan Babirik, kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Betapa indahnya, betapa beruntungnya orang yang menghubungkan silaturrahmi. Bahkan, Nabi kita memberikan juga kepada kita ini, artinya yang dinamakan silaturrahmi itu, ujar Nabi, “bukanlah silaturrahmi itu sematamata babalasan, (seperti) inya (dia) memberi “anu” (sesuatu) kita memberi anu jua. Tetapi, hakikat silaturrahmi yang sangat tinggi nilainya, (adalah) apabila inya itu diputus hubungannya, melainkan inya (dia) yang menyambungnya”

“Ikam (kamu) berbuat baik (tetapi) inya (dia) kada baik, maka hakikatnya inya itu memakan habu nang panas (bara yang panas) nang engkau suapakan. Berarti ini suatu kutukan bagi orang yang cuek ketika mau dibaiki. Dan senantiasa menyertaimu pertolongan dari Allah dalam menghadapi mereka itu. Tapi nantinya inya itu kualat. “Katulahan” bahasa kitanya. Kita baik, inya kada baik. Kita baik berulangulang tetapi tetap saja inya kada baik, maka suatu saat orang tersebut akan “katulahan” bahasa kampung kita”

“Maka senantiasalah kita menghubungkan silaturrahmi dengan berbagai cara. Baik kita datang langsung ke rumahnya. Sekira jauh maka kita dapat berkirim hadiahkah padanya, atau paling tidak kita mengirimkan pesan berita kepada kawan. Otomatis misalnya cara yang disunnahkan Nabi kita bagus bakirim salam, bakirim salam lawan kawan, kirim salam lawan keluarga. Kita nang diberi salam ini jangan kada tahu cara menjawabnya. Di dalam kitab “alAdzkar”, apabila ada berita, (m9salnya) si A, si fulan bakirim salam lawan kita, (maka) jangan bapandir lain dahulu, maka kita jawab :  “ ‘alaika wa ‘alaihi salam” (‘alaika, atas engkau yang membawaakan, serta  ‘alaihi, dan atas inya yang bakirim, “assalam” (keselamatan). Mudah saja jawabannya : ‘alaika wa ‘alaihi salam”.

Ustadz Yasin

 


Ustadz Yasin adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Tambalangan, kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Ada beberapa orang yang mereka itu di Tok atau di Stempel oleh Allah (bahwa) mereka itu termasuk orangorang yang dicintai Allah. Jadi mereka itu digaransikan Tuhan. Di garansi ialah ibaratnya itu di asuransikan, di stempel oleh Tuhan bahwa mereka itu termasuk orang yang dicintai oleh Allah. Pertama, innallaha yuhibbul muhsinin, jadi kalimatnya itu dibawa dengan kalimat Inna, jadi inna itu huruf Lit Taukid, untuk meyakinkan bahwasanya Allah itu sesungguhnya Allah itu pasti mencintai  orang yang selalu berbuat baik. Kedua, innallaha yuhibbut tawwabin, Allah itu akan mencintai orang shaleh yang suka bertaubat. Padahal sementara ini, kita urusan dengan amal ibadah kita yang ada, dengan ilmu kita yang ada, dengan kebaikan yang kita lakukan, kita itu merasa tidak berdosa, merasa kada badosa. Merasa cukupai sudah dengan amal ibadah sembahyang, puasa, zakat, haji, kita merasa cukupai sudah, kada usah lagi bataubat, kada usah lagi meminta ampun atas segala dosa, karena merasa baik sudah. Padahal Tuhan menyuruh kita sering sering meminta ampun, minimal sembahyang taubat. Watubu ilaihi jami’a. Bertaubatlah oleh kamu sekalian. Taubatlah oleh kita semua berarti wajib hukumnya bertaubat. Jadi kalau orang kada suah (pernah) sembahyang taubat, jadinya seakan akan belum termasuk orang yang innallaha yuhibbu tawwabin. Ketiga, innallaha yuhibbul muthathahirin, Allah akan mencintai orang yang selalu mensucikan diri. Kita ini (perlu) mensucikan diri daripada dosa dan daripada hadashadas, ada hadas besar dan ada hadas kecil. Peribahasanya orang yang suka berwudhu, selalu suci bersih (maka) Allah sukai, tapi yang lebih penting dari itu adalah membersihkan diri dari segala dosa. Keempat, innallaha yuhibbul mutawakkilin. Allah itu selalu mencintai orang yang selalu bertawakkal kepada Allah, Bertawakkal kepada Allah itu maksidnya, misalnya karena Allah. Nah jadi serahkan lagi kepada Allah, artinya mudahan berhasil , jadi bilanya kita ini bekerja apapun yang kita laksanakan, setelah kita niat karena Allah, lalu kita serahkan kepada Allah, Allah yang menghasilkan, Allah juga yang menghendaki. Kelima, innallaha yuhibbus shabirin. Sabar ini adalah termasuk akhlakul karimah. Sabar di setiap keadaan, yang seperti ini termasuk yang berat. Sabar itu termasuk akhlak dan sabar itu termasuk ibadah.  Sabar ai menjalani hidup ini, adakah kadadakah, jalani saja, sabar. Kada berkeluh kesah. Mensyukuri yang ada hukumnya ibadah, berpahala. Diberi rezki , alhamdulillah. Takana pas belum diberi rezki lagi oleh Allah, jalani dulu, sabar, hukumnya ibadah, bapahala. Keenam, innallaha yuhibbul muksitin, Allah akan mencintai orang yang selalu berbuat adil. Ketujuh, innallaha yuhibbul muttaqin. Allah itu akan mencintai orang yang selalu bertaqwa. Kedelapan, innallaha yuhibbul mutashaddiqin, Allah itu akan mencintai orangorang yang selalu bersedekah. Bersedekah itu semampu kita, kada kawa banayak sedikit, kada kawa sedikit lawan tenaga dengan fikiran, kada kawa jua dengan pikiran, (maka) akur (setuju) barang, cinta barang. Orang yang selalu bersedekah itu inya pertama dihapus dosa dosanya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.”