KH. Basman bin H. Salman, lahir di Desa Palimbangan, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara, pada tahun 1935. Dari jalur Ibu (Hj. Masrah) nasab beliau tersambung ke Datu Kalampayan (Syekh Arsyad al Banjari).
Pada masa kecil menuntut ilmu di Normal Islam (Ponpes Rakha) Amuntai namun tidak sampai lulus, lalu beliau meneruskannya ke Pondok Pesantren “Darussalam” Martapura selama kurang lebih 10 tahun. Selama menempuh pendidikan, beliau juga berguru secara non formal dengan beberapa ulama diantaranya dengan KH. Abdus Syukur (Kampung Melayu), KH. Badrudin (Kampung Jawa), Guru H. Hasyim (Kuin), dan lain lain.
Beliau seorang yang tawadhu’ dan tidak mementingkan publikasi. Beruzlah sambil membuka majelis di daerah pedesaan yaitu di Desa Tinggiran baru, Kecamatan Mekar Sari, kabupaten Barito Kuala.
Diantara kalam beliau:
“Siapapun yang ma-umpati (mengikuti) jalan para auliya (kekasih Allah), dan sanggup mengamalkan amalan mereka tersebut maka nanti akan terbuka baginya pintu hikmah dan berbagai rahasia pengetahuan serta dapat meningkatkan ma’rifat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Taat bathin yang 10 ialah taubat, khauf (takut), zuhud, sabar, syukur, ikhlas, tawakkal, mahabbah, ridha dan zikr al maut”.
“Hendaknya orang yang salik itu menghiasi zhahirnya dengan mengamalkan syari’at supaya bercahaya hati dengan terang dan hilanglah kegelapan diri, dan tempat thariqah itu ada dalam hatinya”
“Ikhlas itu ada beberapa macam, yaitu : Pertama, ikhlas terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Kedua, ikhlas terhadap kitab Allah Subhanahu wa ta’ala. Ketiga, Ikhlas terhadap para Rasul Allah Subhanahu WA ta'ala. Keempat, Ikhlas terhadap pemuka pemuka ummat Islam, dan Kelima, ikhlas terhadap ummat Islam.”
“Syukur mempunyai beberapa persyaratan. Pertama, berilmu pengetahuan, kedua, menerima dengan suka cita, tawadhu’ dan berterima kasih kepada yang memberi, Ketiga, mempergunakan harta yang diperoleh untuk hal hal yang diperkenankan oleh agama”

.jpg)
