Rabu, 01 Juli 2026

KH. Basman

 


KH. Basman bin H. Salman, lahir di Desa Palimbangan, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara, pada tahun 1935. Dari jalur Ibu (Hj. Masrah) nasab beliau tersambung ke Datu Kalampayan (Syekh Arsyad al Banjari).

Pada masa kecil menuntut ilmu di Normal Islam (Ponpes Rakha) Amuntai namun tidak sampai lulus, lalu beliau meneruskannya ke Pondok Pesantren “Darussalam” Martapura selama kurang lebih 10 tahun. Selama menempuh pendidikan, beliau juga berguru secara non formal dengan beberapa ulama diantaranya dengan KH. Abdus Syukur (Kampung Melayu), KH. Badrudin (Kampung Jawa), Guru H. Hasyim (Kuin), dan lain lain.

Beliau seorang yang tawadhu’ dan tidak mementingkan publikasi. Beruzlah sambil membuka majelis di daerah pedesaan yaitu di Desa Tinggiran baru, Kecamatan Mekar Sari, kabupaten Barito Kuala.

 

Diantara kalam beliau:

“Siapapun yang ma-umpati (mengikuti) jalan para auliya (kekasih Allah), dan sanggup mengamalkan amalan mereka tersebut maka nanti akan terbuka baginya pintu hikmah dan berbagai rahasia pengetahuan serta dapat meningkatkan ma’rifat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Taat bathin  yang 10 ialah taubat, khauf (takut), zuhud, sabar, syukur, ikhlas, tawakkal, mahabbah, ridha dan zikr al maut”.

“Hendaknya orang yang salik itu menghiasi zhahirnya dengan mengamalkan syari’at supaya bercahaya hati dengan terang dan hilanglah kegelapan diri, dan tempat thariqah itu ada dalam hatinya”

“Ikhlas itu ada beberapa macam, yaitu : Pertama, ikhlas terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Kedua, ikhlas terhadap kitab Allah Subhanahu wa ta’ala. Ketiga, Ikhlas terhadap para Rasul Allah Subhanahu WA ta'ala. Keempat, Ikhlas terhadap pemuka pemuka ummat Islam, dan Kelima, ikhlas terhadap ummat Islam.”

“Syukur mempunyai beberapa persyaratan. Pertama, berilmu pengetahuan, kedua, menerima dengan suka cita, tawadhu’ dan berterima kasih kepada yang memberi, Ketiga, mempergunakan harta yang diperoleh untuk hal hal yang diperkenankan oleh agama”

Ustadz H. Luthfil Aziman, Lc, MH


 

Ustadz H. Luthfil Aziman, Lc, M.H,  lahir di Amuntai, Selasa, 6 April 1993 (bertepatan dengan 14 Syawal 1413 H). Beliau adalah pendidik pada Pondok Pesantren “Nurul Amin” Muhammadiyah, Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Bahwasanya manusia ini adalah makhluk yang sangat lemah dan diciptakan dengan sifat yang lemah, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala menyatakan : “wa khulliqal insaanu dha’ifa”, manusia ini diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki sifat lemah, dan diantara lemahnya manusia, kita ini senantiasa melakukan kesalahan, bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.”

“Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan ada amal kebaikan bila digawi (maka) didoakan oleh malaikat. Keburukan bila kita manggawi (juga) didoakan keburukan oleh malaikat. Kenapa? Karena ini motivasi gasan kita sabarataan. Bila dido’akan oleh malaikat, otomatis do’a malaikat ini dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Jangankan malaikat, manusia aja, bahanu (terkadang) kita datang kepada orang nang kita lihat orang itu shaleh, orang itu bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kita datang kepada orang tersebut manyambat (seraya berkata) : “do’akan ulun lah” atau “do’akan anak ulun”. Kita berharap orang tersebut secara zahir kita lihat bertaqwa sehingga mendo’akan kita, mendo’akan anak kita sehingga itu bermanfaat. Padahal nota bene nya nang kita mintai do’a ini adalah manusia. Artinya manusia itu pasti melakukan baanyak kesalahan. Kada sekali dua kali, tapi berkali-kali. Tetapi kita berprasangka baik karena secara zahir orang tersebut baik, kita datangi orang tersebut. Bila manusia aja kita nang kaya itu, terlebih malaikat nang kada suah (pernah) melakukan kesalahan, kada suah bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, senantiasa patuh dan tunduk lawan Allah Subhanahu wa ta’ala, bila malaikat mendoakan kebaikan, maka otomatis pasti dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala”.

“Masa muda adalah “quwwatan bainal dha’fain”, kekuatan diantara dua kelemahan. Manusia pertama kali lahir kemuka bumi ini dalam keadaan lemah tidak bisa apa apa, tidak bisa bicara, tidak bisa berjalan, kemudian tumbuh dan tumbuh puncaknya adalah ketika masa muda dan kembali dalam keadaan lemah ketika seseorang sudah tua. Maka masa muda adalah puncaknya kekuatan. Itulah mengapa, kalau kita ingin merusak suatu bangsa, satu negara maka yang dirusak adalah pemudanya, sebaliknya jika ingin memperbaiki satu negara maka yang diperbaiki adalah pemudanya. Oleh sebab itu, hendaklah kita gunakan masa muda ini untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala”.

“Manusia dalam mencari dan menggunakan harta, ada 4 (empat) model.  Pertama, orang tersebut mencari harta yang halal kemudian ia gunakan untuk yang halal maka ini adalah sesuatu yang terpuji. Misalnya seseorang yang bekerja berdagang memiliki usaha mendapatkan untung, keuntungannya ia gunakan untuk halhal yang halal seperti membeli makanan dan minuman dan lain lain. Kedua, seseorang yang mendapatkan harta yang halal kemudian ia gunakan dalam hal hal yang haram, seperti seseorang yang bekerja mendapatkan harta yang halal tetapi uang tersebut ia gunakan untuk minum khamar untuk sesuatu yang haram, maka yang kedua ini adalah tercela. Ketiga, seseorang yang mencari harta kemudian ia salurkan dalam halhal yang halal, seperti seseorang mendapatkan  uang dari hasil mencuri, merampok kemudian hartanya ia gunakan untuk kebaikan membantu orang lain, membantu faqir miskin, menafkahi anak istri. Keempat, yang paling buruk adalah seseorang mencari harta yang haram kemudian disalurkannya didalam hal yang haram. Misalnya seseorang mendapatkan harta dari hasil judi, merampok, kemudian ia tersebut ia gunakan untuk minum khamar, beli narkoba. Maka inilah keadaan seburuk-buruk manusia.”

Ustadz Syamsuddin

 


Ustadz Syamsuddin adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Babirik Hilir, Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Diantara asbab yang maolah (menyebabkan) kita matinya kada (tidak) baiman, diantaranya adalah attahawun bisshalatil fardi, (yaitu) ma inting intingkan (meremehkan) dengan sembahyang fardhu lima waktu. Jadi menginting intingkan dengan gawian sembahyang fardhu lima waktu merupakan satu sebab yang dapat membuat kita kaena matinya kada baiman”.

“Memang Nabi sudah ba ucap, napa jar Nabi ? “Orang yang mengakali (biasa) minum sesuatu yang sifatnya bisa memabukkan, seperti arak di zaman Nabi, jadi orang yang para pemabuk itu  bilanya garing (sakit) jangan dijinguk (ditengok), jar Nabi. Bilanya mati jangan disembahyangkan, jar Nabi dan jangan di patak (dikubur) dikompleks kuburan muslimin. Itu Nabi nang ba ucap. Jadi orang yang mengakali akan mengkonsumsi sesuatu yang bisa memabukkan, itu kaena mun kada bataubat sampai mati, awas ! (maka) matinya kada akan baiman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala”.

“Diantara sesuatu yang mengakibatkan seseorang mati kada baiman adalah suka maharungi aib orang. Suka maitihi gawian gawian orang. Maharungi (ikut campur) banar. Kalau bahasa Nabi kan “Tajassus”. Kenapa mengintip atau mengintai intai dengan kesalahan orang lain, katuju maitihi keaiban keaiban orang lain, kebanyakkan di kuya i (ghibah). Jadi bila kaya itu ja gawian, mun kada bataubat, awas ! matinya kada akan bisa baiman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala”

“Diantara amalan yang maolah kita pulang mati baiman, diantara amalannya itu adalah ba wirid, atau ba wirid ketika selesai sembahyang fardhu”.