Minggu, 01 Maret 2026

Ustadz Akhyar al-Mubarak


Ustadz Akhyar al-Mubarak adalah salah seorang da’i ilallah dari Desa Pasar Selasa, Kecamatan Sungai Tabukan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Barangsiapa nang menghendaki pada akhir hidupnya diberi Allah husnul khatimah, maka hendaklah inya itu membiasakan sifat, membiasakan akhlak yaitu nang bangaran husnudzan kepada Allah. Tapi kada (tidak) sampai disitu sekalinya. Dalam kitab ulama itu ada makalah, bahwa kada kawa orang husnudzan kepada Allah bila kada kawa husnudzan lawan manusia”

“Untuk bisa husnudzan itu carilah ilmunya, bila kada tahu ilmunya tangalih (agak susah) mambawa (bersikap) husnudzan”.

“Barangsiapa kawa berhusnudzan lawan manusia kemudian mampu husnudzan dengan Allah, nang kaya ini kawa husnul khatimah”

“Dimana husnudzan ini andakannya (letaknya) ? Bila kita bagawi lalu bulik bagawi hati nyaman, bila orang berumah tangga ada keberkahan. Bila kita bagawi misalnya, kita ini sudah husnudzan tarus sama Allah, habis itu bulik kerumah namun kada kawa tanang, maka keseharian kita nang kada tanang hati, itulah nang mambawa kepada akhir daripada..., jaka bahasa kitanya, kematian yang sebujurnya itu ia gawian ha-harian (keseharian) kita itu”.

“Mun handak tahu orang itu (berakhir) husnul khatimah ataukah su'ul khatimah, bila orang itu bulik ke rumah imbah bagawi (lalu) asa  kada nyaman hati, bila guring malam tu kada mau tanang, pikiran macam-macam, lalu ia mati, maka alamat su’ul  khatimah, karena hatinya kada tenang”.

“Kada mungkin seseorang kawa husnudzan lawan Allah, kalau dengan manusia haja kada mampu husnudzan”.

:Menyangka orang dengan sangkaan orang kada baik itulah nang maulah (menyebabkan) kita kada mampu husnudzan lawan Allah”.

“Perkara husnudzan lawan Tuhan itu andakannya di hati, kada takaluar, tapi bila lawan manusia, urusannya takaluar (melebar) bisa jadi fitnah bisa jadi ghibah”.

“Husnudzan itu orang menganggap sesuatu itu baik, meskipun kada baik. Ini husnudzan ngarannya”

                                        ------

“Orang yang sudah disampaikan (kepadanya) petunjuk itu, siapa yang hakun ma-umpati (mau mengikuti) itulah orang yang mengikuti petunjuk. Apa jaminan dari Allah? Maka dia tidak akan tersesat didalam kehidupan dunianya, kehidupan dunianya tidak akan menyesatkannya kepada hal yang tidak baik. Dan dia tidak akan termasuk orang nang celaka di akherat kaenanya, asal hidayahnya itu diambil”

“Isi dari hidayah diantaranya apa? Jar Allah, jaga hati, bersihkan hati dari hal-hal yang bersifat tercela.”

“Hati adalah yang paling berharga di negeri akhirat. Bila seseorang itu datang (kembali) membawa hati yang selamat, maka orang itu akan dijamin oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Tapi bila datangnya kada membawa hati yang selamay, kada kawa dulu batamuan lawan Allah, maka singgah dahulu di pos (pemeriksaan), (seperti) shirat, disitu ada hisab, ada batimbang amal, ada mahsyar”.

“Saking ngerinya, jaka bahasa kitanya – menghitung hisab, jangankan sembahyang kita yang kada bujur hatinya, kada usah pangkal ibadahnya. Masalah sosial haja gin yang sudah mengarah kepada hisab itu sudah diperhitungkan, (seperti) dapat dimana tapih (sarung) kita, akan ditanya kaena darimana datangnya rezeki itu, halalkah haramkah? Bila haram pasti dilarang, bila halal ditakuni dari mana datangnya, dapat dimana, dan kemana menggunakan. Kada kawa lagi kita menganggap diri kita yakin pacang selamat. Jadi bagaimana? Banyaki instrospeksoi diri, perbaiki masalah nang paling dinanti-nanti, yaitu barasihi hati, dan mambarasihi hati ini termasuk nang paling ngalih gawiannya (sulit mengerjakannya). Karena urusan hati ini, peribahasanya, setiap pandangan nang haram, inya bahirang (tambah bintik hitam), setiap makan nang kada halal, inya bahirang (tambah hitam(. Jaka bahasa kitanya, hati itu (akhirnya) makin ngalih dikenali kesalahan-kesalahannya apa, kekurangannya apa”.

“Dalam meminta ampun itu, ada 2 bahasa, bisa dengan bahasa (ucapan) , “afwa fa’fu ‘anna” atau “ allahummaghfirli”. Bila mengucapkan “Allahummaghfirli” itu dosanya masih ada, tapi ditutupi dosa itu dengan sesuatu nang membuat dosa itu kada ketahuan. Bila Allah menmgabulkan, terhapuslah dosa kita. Kemudian, bila kita meminta ampun melalui kalimat, “Allahumma  innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” , maka maksudnya agar dosa itu dihapus sama sekali”. Sedangkan dengan kalimat “Allahummastur”  minta tutupi. Ada-ai dosanya tetapi ditutupi melalui kasih sayang Allah, diperlihatkan namun kada dimintai pertanggungjawaban”.

                                                  -------- 

“Sabar nang biasa kita dengar itu yaitu sabar dalam ta’at, sabar dalam meninggalkan atau tidak mengerjakan maksiat dan sabar dengan ketentuan-ketentuan Allah yang lainnya. Tetapi ternyata, di balik itu, ujar ulama (dimana) ulama sepakat (seperti) ulama-ulama tasawuf, ulama hakikat (bahwa) sabar nang paling berat di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala adalah sabarnya seseorang hamba dimana dalam kesehariannya itu dalam beraktifitas apa saja, dia sabar dalam melihat bahwa disitu ada andil (peran) Allah Subhanahu wa ta’ala didalam kegiatannya. Artinya, sebarataan (seluruh) yang  digawinya itu kada lepas daripada bantuan daripada Allah Subhanahu wata’ala. Maka sabar dalam merasa-akan bahwasanya kita kawa (mampu) ke langgar, kawa bajualan, kawa bajalan, dan sebagainya, (bahwasanya) itu semua adalah atas kehendak dan izin Allah Subhanahu wa ta’ala”.

“Sabar yang paling harat (hebat) itu (bahwa) setiap aktivitas kita disertai dengan niat lawan Allah. Selama hati pas (ketika) maharu (bekerja/mengerjakan) sesuatu ingat bahwasanya “maharu” ini , kawanya seseorang maharu, kawanya itu datang dari Allah. Tinggal kita ini memahami bahwasanya kita ini disuruh menikmati oleh Allah hidangan yang disediakan di dunia, makan saja lagi, maka oleh para ulama, yang sedemikian inipun sudah termasuk dzikir. Jadi kada ngalih dzikirnya, selama seseorang itu ingat lawan Allah Subhanahu wa ta’ala (dalam hati dan pikirannya, pen). Terhitung haja orang itu kedalam orang yang berdzikir lisanjhya, padahal (walaupun) tidak dengan mengucap Allah- Allah pada lisannya”.

Guru H. Masyudin


Tuan Guru H. Masyuddin adalah da’i ilallah dari Desa Pasar Senin, Kecamatan Amuntai Tengah. Beliau jugapendidik di Pondok Pesantren Ar-Raudhah, Pasar Senin, Amuntai.

Diantara kalam beliau:

“Sifat kasih sayang adalah sifatnya para nabi-nabi, sifatnya para wali-wali dan sifatnya orang-orang yang shaleh, sifatnya  bahkan sifatnyapenduduk langit, bahkah juga sifatnya Allah Subhanahu wa ta’ala. Bersifat kasih sayang kepada manusia, saling hormat menghormati bukannya saling benci membenci. Berkasih sayang kepada hamba Allah,  yaitu saling tolong menolong bukannya saling halang menghalangi. Bersifat kasih sayang kepada orang tua, selalu berbakti bukannya mendurhakai. Bersikap kasih sayang kepada orang yang lebih tua, selalu menghormati dan bersifat kasih sayang kepada yang lebih muda, selalu menghargai. Bersifat kasih sayang kepada orang yang sedang sengsara, hendaknya  selalu menolong semampunya, bukannya jahat sangka menyangka sebelum kita tahu tentang dirinya. Bersifat kasih sayang kepada guru yang selalu melajari kita, juga kita perhatikan keadaannya. Bersifat kasih sayang kepada anak-anak, kita selalu mendidiknya ke arah yang bagus dan baik. Bersifat kasih sayang seorang pemimpin masyarakat atau lembaga-lembaga yang teertentu hendaknya mendengarkan apa-apa yang mereka keluhkan”.

“Wahai orang yang miskin daripada ilmu dan amal, pikirkan olehmu pada dirimu karena kamu adalah orang yang  terutama menyuguhkan pikiran pada dirimu sendiri. Dan ingatlah bahwa kamu (nanti) bertempat dikuburan dan segerakan olehmu penyesalan akan keluputan ilmu amal, sebab datangnya  mati, maka betapa banyak di bawah tanah itu daripada penyesalan dan keluputan tidak mengerjakan ilmu dan amal kebajikan”.

“Tawadhu’ adalah sifat yang sangat mulia dan terpuji. Sifat tawadhu’ dipuji berbagai macam kalangan. Barangsiapa dapat bersifat tawadhu’ maka ia akan dipuji  Allah dan Rasul-Nya dan oleh manusia”.

“Tawadhu’ yaitu  merendah diri, merendah hati, merendahkan perasaan diri sendiri”

“Sifat tawadhu’ itu adalah sifat kehambaaa, sifat makhluk yang mengaku lemah.. Sifat tawadhu’ adalah obat daripada sifat takabur, sifat sombong yang selalu ingin tinggi”.

“Barangsiapa bersifat tawadhu’ maka ia beruntung hidup di dunia dan di akhirat”.

Ustadz H. Mukhyar

Ustadz  H. Mukhyar adalah salah seorang da’i ilallah dari desa Tambak Sari Panji, kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara/

Diantara kalam beliau:

“Takutnya orang yang berilmu lebih lagi, mereka itu selalu mangganang, istilah bahasanya tuh banyak mangganang mati, husnul khatimah kah kadakah? Itu nang diganang. Orsang makin banyak ilmunya itu semakin memikirkan tentang bagaimana keselamatan diakhirat. Itulah yang paling mereka ganang.  Jadi, Pertama, ilmu yang bermanfaat itu itu adalah menambah takut kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kedua,  menambah kepada penglihatan mata hati kita pada keaiban-aiban diri, Kita merasa banyak ilmu, kita merasa banyak dosa, kurang amal.  Ketiga,  dapat menambah pengetahuan kita, pengenalan kita ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Jadi ibadah kita semakin bertambah, orangberilmu ibadahnya semakin banyak. Keempat,  ilmuyang bermanfaat itu dapat mengurangi kegemaran, kecintaan, kesukaan kepada dunia. Artinya jika kita itu mengurangi cinta dunia,  artinya kita banyak mengingat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.  Kelima,  Ilmu yang bermanfaat itu  apabila kita itu dapat menambah cinta kepada akhirat Artinya dapat membuat kita banyak-banyak beribadah, banyak-banyak kita dapat meninggalkan yang dilarang oleh Allah Subhanahu  wa ta’ala. Keenam, terbukanya pintu hati, artinya tahuyang akan membinasakan amal, kita tahu yang menghilangkan (pahala) amal ibadah, kita tahu cara yang dapat menghindarinya. Ketujuh,  ilmu yang bermanfaat itu akan mampu melihat tipudaya setan. Mun kita melihat tipu dayasetan, kita singkirkan. Bahasanya, tipu daya setan kada mempan, kada bakutik setan lawan kita, karena kita tahu ilmunya tahu cara mencegahnya”.

Ustadz H. Hasbi



Ustadz H. Hasbi adalah salah  seorang da’i ilallah dari Desa Tambak Sari Panji, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Kita jangan minder lah, apapun posisi kita di masyarakat itulah yang penting kita kawa memberikan kebaikan (manfaat) kepada orang lain. Itu jar nabi kita, yang paling baik manusia bukan yang alim, bukan yang sugih, bukan. Napa ? yang paling baik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang banyak”.

“Dagin yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka nanti  neraka yang lebih aula memakannya. Lawan nang haram ini pian bisa “mangariau” pulang, yaitu memanggil nang haram yang lainnya pulang. (Bagi) nang sudah ta-makan nang haram menjadi daging kaya apa cara menghilangkannya? Mudah menghilangkannya. Kaya apa cara kita mengembalikan, berarti lawan siapa kita maambil benda itu, bila purun minta rela minta maaf sampaiakan. Bila kada purun juga menyampaiakan, (maka) menyumbang pian ke manakah ke langgar ke masjid ;lalu niatkan pahalanya sampaiakan kepada orang yang dahulunya harta bendanya pernah kita ambil, insya Allah diampuni aja oleh Allah Subhanahu wa ta’ala”.

“Seeperti kita ini kan masih banyak bagawi daripada baamal ibadah. Iya lah. Banyaki porsi ibadah kita kaena Tuhan bisaai mengurangi porsi dunia kita itu. Tapi ketika kita menghemat amal ibadah lalu kita mengurangi porsi dunia kita, Insya Allah Tuhan kada mangurangi juga rezeki kita, kada mangurangi juga itu rezeki, tetap sa-itu rezeki. Jadi kita ini jangan sampai terlalu banyak urusan dunia dibandingkan ataupun meninggalkan sama sekali perkara-perkara akhirat”.

“Tapi ada golongan nang mereka mengangkat tangan tuh kada sekedar meminta, tapi mereka menjadikan do’a itu untuk beribadah. Artinya lewat do’a itu inya dapat pahala, dapat redha-Nya Allah ta’ala. Ada kita ini bila berdo’a (biasanya) mengingatakan napa-napa nang diminta. Ini ujar ulama ada kada bagusnya. Dimana kada bagusnya? Bila kita itu sekedar  meminta saja, bila kada kabul maka sarik (marah) lawan Tuhan. Lawasnya bado’a kada sing kabulan jua. Kenapa? Karena hati kita ini : minta-minta wara. (oleh karena itu) ditingkatakan-ai kita berdo’a tuh, jangan ma-inta inta wara. Kenapa? Kita niatakan juga  do’a ini sarana kita untuk mendekat atau beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dan juga menjalankan perintah Allah. Tapi jangan jua kita kada sing pintaan, karena kita ini kada wali”.

“Golongan yang paling hebat dalam berdo’a (adalah) mereka kada meminta, berharap kada, tapi mereka jadikan do’a itu semata-mata hanya untuk bermunajat, bapandir (berbicara), mendekat kepada yang dicintai. Untuk merndekat kepada yang dicintai  itu saja niatan mereka”.

KH. Ma'mur Thaha


KH. Ma’mur bin Muntaha lahir di desa Manarap, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara pada tahun 1886 M (1304 H). Lama memperdalam ilmu agama di Mekkah al-Mukarramah. Guru Sekumpul  (KH. Zaini bin Abdul Ghani) pernah berguru dengan beliau di Manarap mengenai ilmu ma’rifat hakekat tentang Nur Muhammad.

KH. Ma’mur berpulang ke rahmatullah pada hari kamis, 14 Agustus 1975 (7 Sya’ban 1395). Kubah di Kampung Manarap, Kecamatan Danau Panggang.

KH. Aseran


KH. Aseran  adalah orang tua dari KH. Zamakhsyari Aseran. Beliau pada tahun 1963, bersama-sama dengan KH. Abul Hasan dan tokoh masyarakat mendirikan pesantren yang diberi nama “Hidayatullah” di Desa Sungai Turak Dalam. Dalam perkembangan selanjutnya, pesantren berubahmenjadi Madrasah Ibtidaiyah “Hidayatullah” Desa Sungai Turak Dalam, Kecamatan Amuntai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Drs. H.M. Kursani Ahmad, M.Ag


Drs. H. M. Kursani Ahmad, M.Ag, lahir di Amuntai, Sabtu, 28 Agustus 1950 M (bertepatan dengan 19 Muharram 1443 H)  adalah dosen Metodologi Ilmu Kalam pada UIN Antasari Banjarmasin.

Diantara kalam beliau:

       “Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa ta’ala pernah bersumpah dengan waktu. Sebagaimana firman-Nya : “Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran” (Qs. Al-ashr (103) : 1-3). Dengan demikian, waktu sangat penting dan berharga. Oleh karena itu, Islam memerintahkan umatnya agar mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya, manfaatkan waktu semaksimal mungkin tanpa menunda-nundanya hingga waktu yang lama. Menunda pekerjaan tidak saja sama artinya dengan menyia-nyiakan waktu, tetapi lebih dari itu, akan merugikan diri kita sendiri. Waktu terbuang percuma tanpa menghasilkan nilai amal. // Lebih dari itu, sebagai manusia kita sebetulnya tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Penyesalan amat mungkin terjadi jika pekerjaan yang sebetulnya dapat kita kerjakan tapi kita tunda. Allah Subhanahu wa ta’ala memperingatkan kita dalam firman-Nya : fa izaa faraghta fangshob, wa ilaa rabbika farghob, “Maka apabila engkau telah selesai (dari mengerjakan sesuatu) maka kerjakanlah pekerjaan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” (QS. Al-Insyirah (94) : 7 – 8). Dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa Ibnu Umar ra pernah berkata: “apabila engkau memiliki suatu pekerjaan di sore hari, maka lakukanlah di waktu itu juga, jangan menunda hingga waktu subuh. Demikian pula halnya, apabila ada pekerjaan di waktu subuh lakukanlah diwaktu itu, jangan sampai menundanya hingga waktu sore. Beramallah kalian jika sehat untuk bekalmu ketika sakit, dan beribadahlah kamu ketika hidup untuk bekalmu ketika meninggal nanti.” // Dalam memanfaatkan waktu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memperingatkan tentang hal ini dengan sabdanya: “ada 2 anugerah nikmat yang disia-siakan oleh kebanyakkan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari). Seorang pujangga arab mengatakan dalam syairnya: “Janganlah kamu sekalian menyia-nyiakan waktu sebab waktu itu bagaikan sebilah pedang.” Oleh karena itu, kesempatan waktu yang ada kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya mungkin dengan pekerjaan yang bermanfaat, dan yang dapat dipertanggungjawabkan dihadapan siapa saja, terutama di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala kelak di akhirat nanti, apabila tidak demikian, pasti kita akan celaka dikemudian hari”. (Khutbah beliau di Mesjid Ar-Raudhah Ratu Zaleha Banjarmasin, 29