Selasa, 04 Agustus 2026

KH. Ahmad Khatib

 


KH. Ahmad Khatib, lahir tahun 1866 (atau sekitar 1282  1283 H) di Desa Sungai Banar, Kecamatan Amuntai Selatan. Nama lengkap beliau adalah KH. Ahmad bin H. Muhammad Arif. Beliau adalah seorang ulama kharismatik yang dikenal orang semasa hidupnya. Menuntut ilmu di kota Mekkah selama puluhan tahun dan sempat mengajar di mesjidil Haram beberapa tahun lamanya. Sepulang dari mekkah, beliau menuntut ilmu lagi ke Nagara (HSS) selama kurang lebih 5 tahun, dan bahkan sempat pula mengajarkan ilmu disana.

Sepulang dari Nagara ke kampung halaman, beliau kemudian mengajarkannya kepada masyarakat. Pengajian beliau dilaksanakan di Mesjid Jami' Sungai Banar dan di rumah beliau sendiri, kemudian berpindah lagi ke Langgar "Nurul Khairi". Banyak orang yang belajar dengan beliau akhirnya menjadi ulama, diantaranya KH. Abdurrahman Ali (Pengarang Kitab Kifayatul Mubtadin, dll), KH. Ardhy Hasyim (Sungai Banar), KH. Gurdan hadi (Kota Raden). KH. Husein (Ilir Mesjid), dll.

Adapun gelar “Khatib” yang melekat pada beliau, dikarenakan pada zaman penjajahan Belanda ada larangan untuk menyampaikan khutbah di atas mimbar mesjid, namun beliau termasuk ulama yang berani  naik ke atas mimbar untuk menyampaikan khutbah. Sejak saat itulah beliau dikenal dengan sebutan KH. Ahmad Khatib. Dalam catatan sejarah Mesjid Jami’ Sungai Banar, beliau tercatat sebagai khatib tetap di Mesjid Jami’ Sungai Banar, disamping ulama lainnya seperti KH. Abdul Qadir, KH. Ahmad bin Jamaluddin, KH. Abdul Hamid, dll.

Berpulang ke rahmatullah pada hari Selasa, 18 September 1956 (bertepatan dengan 13 Shafar 1376 H). Dimakamkan di alkah keluarga di dekat langgar "Nurul Hamid" Desa jarang Kuantan, Kecamatan Amuntai Selatan.

KH. Darman Fauzi

 

KH. Darman Fauzi bin Zahry adalah pendiri Pondok Pesantren “Shalatiyyah” Jalan Keramat, Danau Panggang. Pada tahun 1953, beliau bersama-sama dengan tokoh masyarakat seperti H. Muslim, H. Abdurrahman yang merupakan sama-sama alumni (lulusan) dari sekolah di Timur Tengah (Makkah dan Madinah) mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang bernama “Ijtihadul Ma’had Islam” (IMI) di Desa Bitin, Kecamatan Danau Panggang. Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 1966, lembaga pendidikan ini mampu mengembangkan pembangunan sekolah madrasah untuk tingkatan madrasah tsanawiyah hingga ‘aliyah.

KH. Darman Fauzi juga merupakan pendiri Majelis Ta’lim “al Haq” Kelayan Selatan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Telah berpulang ke rahmatullah pada 15 Desember 1998 M (bertepatan dengan 26 Sya’ban 1419 H). Dimakamkan di Desa Manarap, Danau Panggang.

Guru Mastur


 

Guru Mastur adalah salah seorang da’i ilallah dari Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Di dalam al-Qur’an itu ada ssurah al Fatihah, atau ummul qur’an. Apa artinya “ummi”. Induknya al Qur’an, ibunya al qur’an. Kadada qur’an itu orang  mengatakan “Abul Qur’an”. Kadada. Jadi jangan hiri lawan bibinian (perempuan). Ada pula Surah “an Nisa”. Kadada surah Bapak atau surah Abu. (adanya) Surah “An Nisa” Tuhan menjelaskan, itu mengangkat harkat dan martabat bibinian. Kemudian Nabi sendiri berkata (bersabda) : “al jannati tahtal aqdamil ummahat” Kadada Nabi itu mengatakan “al jannatu tahtal aqdamil abi”. Jadi untuk mengangkat harkat dan martabat wanita tidak terlepas daripada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam”.

“Sebelum peristiwa Isra Mi’raj, dada Nabi itu dibelah. Menurut Riwayat 4 kali belah (bedah). Pertama, waktu Nabi berusia 4 tahun, waktu digaduh (diasuh) oleh Halimatus Sya’diyah. Kedua, waktu berusia 10 tahun di Padang Pasir. Ketiga, pada waktu diangkat menjadi nabi dan Rasul. Keempat, yang terakhir pada waktu Isra’ dan Mi’raj nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nang di balah itu adalah diambil hati, dibersihkan, artinya dibunagi daripada kotorankotoran atau penyakit-penyakit hati. Dibasuhnya dengan air zamzam, karena air zamzam itu adalah suci. Air sorga yang berada di dunia, iaitu air zamzam”.

“Adapun air kita ini ada 5 yang suci, pertama, air yang keluar dari telunuk Rasulullah, kedua, air zamzam, ketiga, air telaga kautsar dan keempat, air di sungai Nil, dan kelima, ia air yang ada ini.