Kamis, 04 Juni 2026

KH. Abdul Hamid (Tuan Guru Putih)

 


KH. Abdul Hamid bin Muhammad Shaleh diperkirakan lahir tahun 1870 M (1290 H) di Desa Panyiuran, Kecamatan Amuntai Selatan. Nama sewaktu kecil adalah Aminullah. Ketika dewasa orang mengenalnya dengan nama Abdul Hamid.

Pada umur kurang lebih 30 tahun, sekitar tahun 1900 M (1320 H) beliau menikahi seorang perempuan yang bernama Sahai. Dan kemudian, bersama dengan istri, beliau pergi menuntut ilmu agama ke Tembilahan, Sumatera. Di daerah Sapat beliau berguru dengan keturunan Syekh Muhammad Arsyad alBanjari, yaitu dengan KH. Abdurrahman Siddik (Guru Sapat) pengarang kitab  ‘Aqidatul Iman. Setelah berapa lama berguru, bersama istri beliau pergi lagi ke Siam (Thailand). Karena istri beliau meninggal di negeri Siam, maka beliau memutuskan untuk pulanbg kembali ke kampung halaman dengan membawa dua orang anak kandung yang masih kecil yaitu Nawawi dan Mala.

Sepulang dari Thailand, beliau kembali menuntut  ilmu dengan tuan guru  tuan guru yang ada di Hulu Sungai kurang lebih 5 tahun, sebelum akhirnya beliau pergi berhaji pada tahun 1910 M (1330 H).


 

Dan pada keberangkatan haji yang kedua sekitar tahun 1915 M, pulangnya beliau membuka majelis pengajian di rumah beliau sendiri, yang kemudian disamping rumah tersebut didirikanlah sebuah langgar (mushalla) tingkat dua pada 12 Rabiul Awwal 1336 H dengan nama jama’ah Nurul Huda. Beliau bersama dengan masyarakat juga membangun mesjid “Muara Tapus” yang ada sampai sekarang.

Dalam keseharian beliau sering berkhalwat di mesjid Sungai Banar. Dan oleh masyarakat dikenal mempunyai banyak keramat. Disebut orang sebagai Tuan Guru Putih dikarenakan beliau dalam kesehariannya selalu atau sering memakai baju putih.

Telah berpulang ke rahmatullah pada Senin, 8 september 1941 M (bertepatan dengan 16 Sya’ban 1360 H) pukul  15.30 sore, di makamkan di Desa Keramat, Panyiuran, Kecamatan Amuntai Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar