Selasa, 10 April 2018

USTADZ AHMAD RIFA'I, S.Pd.I



Ustadz Ahmad Rifa’i, S,Pd.I lahir di Amuntai, Minggu, 25 April 1982 M (bertepatan dengan 1 Rajab 1402 H). Ustadz yang berprofesi sebagai pendidik ini, mengajar di MIN Kandang Halang Amuntai (sekarang MIN 8 HSU).
Beliau aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, di samping juga aktif mengisi berbagai majelis taklim di Kota raja, Palampitan, Kota Raden Hulu dan Hilir, serta juga membuka majelis pengajian dirumah pribadi beliau setiap hari Senin. 



Diantara kalam beliau:

 “Dengan adanya zurriyat Rasulullah di majelis tersebut (di suatu majelis) akan mempercepat hadirnya rohaniah baginda Rasulullah di majelis tersebut. Sebagai contoh, misalnya, disebuah desa yang terpencil ada sebuah pesantren, tiba-tiba bupati takajut, camat takajut, RT takajut, kenapa, tiba-tiba gubernur datang ke sana, usut punya usut, diteliti benar apa tidak di pondok pesantren terpencil tersebut ada cucunya gubernur sekolah di situ. Pantaslah gubernur datang ke situ ? Pantas. Diundangkah gubernur, kada. Begitupula dengan Baginda Rasullillah. Adanya zurriat beliau disuatu majelis akan mempercepat hadirnya rahaniah baginda Rasulullah ditempat tersebut”

“Kita ini jadi ummat yang paling mulia. Kenapa? Karena ummat lawan Nabi yang paling mulia. Kada gampang-gampang. Kada handak Allah supaya kita terjerumus seperti Bani Israil, mendaulat Nabi Muhammad sebagai “Tuhan”. Napa yu? Al-Qur’an hanya milik Rasulullah, Isra’ mi’raj hanya Rasulullah yang mengalami. Kadada Nabi lain. Artinya napa, lebih pantas beliau jadi “Tuhan”. Seandainya. Tapi lihat, Allah kada handak hal tersebut terjadi. “Subhanalladzi asra biabdihi” (Maha suci Allah yang menjalankan hamba-Nya). Maksudnya, kaya apapun hebatnya Nabi Muhammad, beliau tetap adalah “abdun” (hamba).

“Pangkat nang paling tinggi adalah “abdun” (hamba). Jadi mun ada orang mengaku hamba, berarti sudah faham. Bila inya sugih, (berarti) aku disugihakan. Inya alim, (berarti) aku dialimakan. Inya bungas, (berarti) aku dibungasaakan. Hilanglah sikap sombong. Hilanglah ucapan “aku”. (seperti) : “Jaka kada aku dilanggar itu kada kawa bamulutan” Jadi (sifat) Aku ini berbahaya. Lihat maksiat yang pertama ketika Allah menjadikan langit dan bumi, sorga dan neraka, adalah : “Qaala Anaa khairru minhu, khalaqtanii min naariin wa khalaqtanii min thiin (QS. Al-A’araf (7) :12). “Aku jar iblis diciptakan dari Api, (sedang) Adam daripada tanah. Lebih mulia aku”. Nah, aku ini berbahaya. Membakar sikap sombong dalam satu kalimat  : “Subhanalladzi asra bi abdihi”.

“Ketika seseorang mendapat nikmat Allah, (lalu) dia sisihkan sagin (untuk) yatim, sagin muallim, sagin anak bini. Kenapa ? (karena) sudah ada ingatannya dijalan Allah Subhanahu wa ta’ala. (Jadi) orang yang pandai menggunakan hartanya di jalan Allah, ketika dia dapat nikmat, maka ingatannya yang pertama bukan pada banyaknya (?) tetapi (bagaimana) menggunakannya di jalan Allah, dan mulutnya mudah mengucap Alhamdulillah. Kakinya ringan melangkah di jalan Allah, segenap waktunya ringan beribadah kepada Allah. Alhamdulillah. Sedikit-sedikit ada maksiat, cepat astaghfirullah, na’udzubillah. Kenapa ? Karena ingatannya selalu pada Allah”.

“Banyak yang bisa kita contoh dari baginda Rasulullah SAW, baik dari segi pikiran, perkataan maupun perbuatan beliau. (Jadi) beruntung sekali kita diciptakan menjadi ummat Rasulullah. Karena kasih sayang Rasulullah kepada ummatnya sangat besar dan beliau selalu mendo’akan ummat beliau” 

“Pada dasarnya mendidik anak, orang tua harus terus menerus berusaha jangan pernah menyerah dalam mengejar taufik dan hidayah untuk anak-anak kita, teruslah berusaha dan berdo’a untuk anak kita.”.

“Ketika Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan semua musibah, semua bala’ ke suatu tempat maka musibah, bala’ tersebut akan memilih dan memilah, akan memberikan banyak sekali hikmah dan manfaat bagi orang-orang yang ingin mengambil manfaat. Kalau ditempat itu dulunya terjadi kemaksiatan, banyak terjadi hal-hal yang melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, maka musibah yang Allah datangkan saat itu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberikan teguran, memberikan peringatan. Kenapa? Agar kita kembali kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya: “zaharal fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidin naasi, liyuziiqahun ba’dalladzi ‘amiluu la’allahum yarji’un” (Qs. Ar-Ruum : 41). Agar mereka kembali kejalan yang benar. Ibaratnya, orang tua yang sayang kepada anaknya, ketika anaknya melakukan suatu pelanggaran, seperti anaknya kada ma-asi dirumah, kuitan biasanya memberikan teguran (seperti) mungkin kada mambarii duit, mungkin sesekali kuitan mamupuh tapi mamupuh dengan pupuhan sayang, yang sekira-kira memberikan pendidikan pada anak. Dan kita sebagai anak yang baik, ketika kita kada dibari duit, atau kita dipupuh oleh kuitan, kemana jalan kita? Kada lain kada bukan kecuali kembali kepada kuitan kita. (maka) Allah ta’ala ingin agar kita kembali kepada-Nya dengan memberikan teguran, dan kalau kita mau menjalaninya kembali dengan Allah baru ketahuan betapa dalam musibah tersebut terdapat segudang hikmah, terdapat sejuta kebaikan bagi kita semua”.

“Orang beriman (itu) sangat sederhana, tetapi istemewa, yang mana apabila datang musibah kepada mereka, mereka mengatakan : Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Allah adalah tempat kembali,  bukan hanya dilisan tetapi melekat dihati kita, iman (yang) mengembalikan ini semua kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sekiranya kita tidak dapat merasakan hikmah itu sekarang, maka berhusnudzan-lah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, berbaik sangkalah dengan Allah, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan mendtangkan segala kebaikan dibalik semua musibah yang Allah ta’ala datangan kepada kita”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar