Rabu, 02 Februari 2022

Ustadz DR. H. AHMAD HARIES, S.Ag, M.Si

 

DR. H. Ahmad Haries, S.Ag, M.Si, lahir di Hulu Sungai Utara, Amuntai, Senin, 12 Mei 1975 M (bertepatan dengan 30 Rabiul Akhir 1395 H) adalah dosen tetap Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda pada jurusan Syari’ah, dengan mata kuliah yang diampu adalah Fiqih Mawaris. Aktif sebagai tim ahli hisab dan ru’yat kementerian agama provinsi Kalimantan Timur.

Disamping sebagai dosen, beliau juga Pembina Majelis Taklim Masjid Raya “Darussalam” Samarinda, menjadi narasumber dalam berbagai dialog interaktif ke islaman Radio Dakwah Darussalam Samarinda.

Diantara kalam beliau:

“Menurut Hukum Islam, apabila seseorang meninggal dunia maka yang paling berhak untuk mendapatkan harta warisan tersebut adalah ashab al-furud (orang-orang yang mendapatkan bagian tertentu seperti yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an). Kalau seandainya harta warisan sudah dibagikan kepada ashab al-furud dan ternyata harta tersebut masih tersisa, maka harta tersebut diberikan kepada ‘asabah. Jika seandainya ‘asabahnya juga tidak ada, maka harta tersebut diberikan kepada zawil arham, dan apabila zawil arham juga tidak ada maka harta tersebut diberikan kepada bait-al-maal (balai harta keagamaan) yang nantinya akan dimanfaatkan untuk kepentingan agama Islam dan kesejahteraan umum. // Menurut hukum adat, apabila seseorang meninggal, maka yang paling berhak untuk mendapatkan harta warisan adalah anak-anaknya (baik anak-anak kandung maupun anak angkat) dan pasangan hidupnya (baik suami atau isteri). Apabila seseorang meninggal dunia dan tidak meninggalkan ahli waris sama sekali, maka harta tersebut diserahkan kepada adat yang nantinya akan dipergunakan untuk kemaslahatan masyarakat daerah setempat”. (H. Akhmad Haries, “Pluralisme Hukum Kewarisan di Indonesia”)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar