Senin, 06 April 2026

KH. HASANUDDIN

 

KH.Muhammad Mar'i

KH. Muhammad Mar’i (Guru Tuha Babirik) adalah salah seorang ulama dari Desa Kalumpang, Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Seburuk apapun di dunia ini pasti ada pengikutnya, karena itu kita harus pilih-pilih.  Ala ta’budu syaitan, innahu lakum ‘aduwwu mubiin. Jar Tuhan, jangan menyembah syaithan, jangan ma-asi (mengikuti) lawan syaithan, karena syaithan itu bagi kamu adalah musuh yang nyata. Napa gawian syaithan, yaitu menentang Rasulullah, syaithan itu anak iblis”.

“Yang namanya disebut aliran ahlussunnah wal jamaah itu jangan kita hilangkan (tinggalkan). Napa pegangan ahlussunnah wal jama’ah ? Rujukamnnya yaitu al-Qur’an, kedua hadits Nabi, ketiga ijma’ ulama dan keempat qiyas. Empat ini pegangan ahlussunnah wal jama’ah. Orang memakai qur’an tetapi tidak memakai hadits, bukan ahlussunnah wal jama’ah. Orang memakai hadits tetapi kada memakai ijma’ ulama, lain ahlussunnah waljama’ah”.

“Ilmu syari’at itu disebut ilmu zahir yang menshahkan ibadah kepada Allah. Misalkan sembahyang, itu syari’at atau tata cara. Kemudian ada hakikat. Pakai syari’at tapi kada pakai hakikat. Hakikat kada basyari’at, maka kosong. Dan Syari’at kada ba hakikat, itu bathal. Jadi ibarat banih (Benih) itu kadaka kindainya (lumbungnya), benihnya ada kindainya kadada, (maka) jadi tahambur. Sebagian orang mengatakan syari’at itu kulit, hakikat itu isi”.

“Baitullah berjanji. Kaena pada  hari akhirat atau hari kiamat, baitullah itu masuk sorga. Beberapa benda yang masuk sorga itu bermacam-macam (seperti) Baitullah, Hajar aswad, binatang (seperti) ontanya Nabi Shaleh, Kuyuk (anjing) ashabul kahfi masuk  sorga. “Baitullah masuk sorga”  kata Jibril. Lalu kata Baitullah : “ Akukada hakun masuk sorga kecuali orang yang pernah tawaf (mengelilingi) lawan aku (juga) masuk ke dalam sorga”.

Ustadz H. Rahmani Abdi, S.S, M.Pd

 

Ustadz H. Rahmani Abdi, S.S, M.Pd bin Ermansyah, lahir di Amuntai pada hari Jum’at, 20 November1981 (bertepatan dengan 22 Muharram 1402 H). Berlatar belakang pendidikan Pondok Pesantren “Raudhatut Thalibin” Amuntai, kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah Khusus (MAK) Rakha Amuntai. Untuk program   sarjana, beliau menempuhnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (2005), sedangkan program masternya beliau tempuh di Universitas Negeri Yogyakarta (2007).

Sekarang beliau menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sungai Pandan. Setelah sebelumnya bertugas di KUA Kecamatan Haur Gading, KUA Amuntai Tengah, dan sebagai Kepala KUA Kecamatan Amuntai Selatan.

Dalam bidang pendidikan, beliau pernah menjadi Kepala Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Rakha Amuntai periode 2009 – 2017, dan sebagai Wakil Ketua I Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengabdian kepada Masyarakat dari tahun 2024 sampai sekarang.

Diantara kalam beliau:

“Sebagai tokoh yang memiliki peran strategis dalam pelayanan publik, penghulu kerap berada di garis depan dalam urusan sosial dan administrasi, khususnya layanan pernikahan. Oleh karena itu, kesadaran dan komitmen penghulu dalam mencegah gratifikasi sangatlah penting. Gratifikasi, dalam bentuk pemberian uabng, barang atau fasilitas lainnya, seringkali dianggap sebagai “hadiah” atas jasa pelayanan. Dalam beberapa kasus, tidak disadari bahwa pemberian tersebut berpotensi melanggar hukum, terutama jika dimaksudkan untuk mendapatkan pelayanan khusus atau mempercepat proses tertentu.”

“Dalam upaya mencegah gratifikasi, edukasi kepada masyarakat merupakan langkah penting dan mendasar. Sebagian masyarakat belum memahami perbedaan antara “hadiah” yang sah menurut norma sosial dan gratifikasi yang melanggar hukum. Ketidaktahuan ini seringkali menjadi celah yang dimanfaatkan untuk memperkuat budaya pemberian yang tidak sepatutnya. Oleh karena itu, penghulu memiliki tanggungjawab untuk menyampaikan informasi yang jelas kepada masyarakat tentang pentingnya menghindari gratifikasi” (Rahmani Abdi,  Penghulu dan Pencegahan Gratifikasi  (Opini),  Pustaka (Pusat Literasi dan Karya Penghulu Indonesia), Desember, 2024.

Ustadz Ahmad Syuhada al-Alaby

 

Ustadz Ahmad Syuhada al-Alaby bin Tabrani, lahir tahun 1982 di Desa Danau Cermin, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sekarang menjadi pendidik di Pondok Pesantren “Nurul Muhibbin” Putri, Barabai, Hulu Sungai Tengah. Beliau menyematkan nisbah al-alaby dibelakang namanya untuk mengenang para datuk-datuknya yang berasal dari Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Sebagai seorang mu’alliq, beliau giat meneliti dan mendokumentasikan kitab-kitab klasik secara ta’liq dan tahdzib. Ta’liq yaitu merujuk pada pemberian catatan-catatan atau penjelasan. Sedangkan tahdzib berarti menyederhanakan redaksi kalimat tanpa merubah makna dan substansinya. Beberapa kitab klasik yang telah beliau ta’liq diantaranya adalah “Jawami’ al-asrar : Himpunan Segala Rahasia”, Kitab “Tajul ‘arus” karya Ibnu Athaillah, Kitab “Tuhfah al-Raghibin”, karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan lain-lain.

Diantara kalam beliau:

“Kakanakan itu tagadai lawan aqiqahnya. Amun “tagadai” mun bahasa kampungnya (yaitu) tasanda ngarannya. Tasanda itu berarti kita ada tahutang, ada jaminan, mun kada dibayar kaya apa maambil. Jaminan itu ngarannya gadai atau sanda. Di sini ulama memahami apa maksud tagadai itu, kaitannya lawan si anak. Maksud tagadai disini adalah kakanakan ini mun kada di aqiqahi, kada tumbuh nang kaya tumbuh semestinya. Perkembangannya itu jar orang, lambat. Kalau dinisbahkan ke orang tuanya, kakanakan ini kada kawa membari syafa’at”.

“Apabila anak ini jauh dari agama, terus dijauhkan dari agama, jangan menyesal sampiyan bila anak tuha kaena jauh dari sampiyan. Apabila anak kada dididik lagi halus kada ditangisakan sewaktu halus, jangan menyesal pian bila anak ganal pacang manangisakan sampian. Jangan menyalahkan orang salahkan diri sendiri.”

“Anak-anak orang yang ahlul khair, orang-orang yang baik kalau tak kawan dengan anak-anak orang ahlul syar, maka akan ta-ubah, ta-umpat.  Bila ada nang baik ada nang kada baik, takumpul, nang kalah (adalah) nang baik. Halal wal haram ghulibal haram, apabila halal dan haram takumpul, nang dimanangakan nang haram, kalah nang baik. Ini maksudnya bahwa pergaulan sangat mempengaruhi”.

Ustadz Muhammad Wahyu Ramadhan, Lc

Ustadz Muhammad Wahyu Ramadhan, Lc  adalah salah seorang da’i ilallah dari Candi Agung, Kelurahan Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah. Beliau menjadi pendidik di Pondok Pesantren “Raudhatut Thalibin”Amuntai.

Diantara kalam beliau:

“Karena ilmu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sumber segala macam kebaikan, sumber segala macam keberkahan. Bahkan kadang mungkin seseorang itu kawa menjadi hamba Allah yang sebenar-benarnya, menjadi seorang hamba yang dicintai oleh Allah kecuali melainkan semua pintunya itu berawal daripada pintu ilmu”

“Kenapa orang merasa biasa-biasa saja dengan ilmu, dengan majelis-majelis ilmu diakhir zaman? Itulah talbis iblis, tipu daya yang dilakukan setan. Karena semakin jauh kita daripada majelis ilmu, semakin jauh seseorang daripada ilmu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, semakin gampang inya (dia) dijebak hawa nafsu, semakin gampang inya untuk ditipu oleh setan dan kakawanannya, semakin gampang inya ditipu oleh dunia dan segsla hal-hal memperdaya yang lainnya. Itu artinya, semakin inya jauh dari ilmu, semakin mudah inya dimasukkan ke dalam neraka”.