Minggu, 17 Oktober 2021

H. SIRAJUDDIN

 


H. Sirajuddin, lahir di Desa Teluk Mesjid, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, pada Minggu, 19 Februari 1967 M (bertepatan dengan 9 Zulqa’dah 1386 H).

Diantara kalam beliau:

“Para ulama ada membagi puasa itu 3 tingkatan. Pertama, puasa orang yang mubtadi, orang yang jakanya sakolah tu masih tingkat madrasah. Kayapa? Yaitu orang yang malamnya baniat puasa ramadhan, siangnya menahan diri dari makan dan minum serta bergaul suami istri. Ini puasa mubtadi. Ini bisa termasuk yang dikatakan oleh Nabi : “ Berapa banyak orang yang berpuasa di bulan ramadhan, tapi ia tidak mendapatkan ganjaran pahala puasanya, melainkan hanya merasakan lapar dan haus saja.” Kedua, tingkatan puasa orang yang mutawasith, pertengahan, adalah disamping malamnya ia baniat puasa ramadhan, siangnya menahani diri dari makan dan minum dan bergaul suami istri, tetapi sidin juga memelihara dari anggota yang 7 (tujuh). Padahal anggota yang 7 ini bukan disuruh pada saat ramadhan saja, seperti mata, telinga, muntung (mulut), tangan, batis (kaki), perut dan kemaluan. Anggota yang 7 ini adalah titipan, amanah dari Allah Subhanahu wa ta’ala yang diperintahkan disuruh digunakan kepada sesuatu yang di redhai, dipelihara daripada menggawi sesuatu nang dimurkai Allah Subhanahu wa ta’ala. Ketiga, yaitu kelas bagi orang yang waktu ibadah ramadhan tidak mau memikirkan sesuatu selain daripada banyak mengingat  dan menyebut Allah Subhanahu wa ta’ala”.

Ustadz M NORDIN



Ustadz Muhammad Nordin, adalah seorang da’i muda berasal dari Desa Rukam, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Didalam kitab “Maraqil ‘Ubudiyah”, Allah berkata kepada Musa : wahai Musa ! pada ketika engkau kada ba-udhu, batal wudhu, dan ikam kada ba-udhu setelah itu, maka apabila terjadi sesuatu  yang tidak engkau senangi, maka jangan salahkan yang lain, tetapi salahkan dirimu sendiri karena engkau kada ba-udhu, karena ikam dalam keadaan kada suci”.

“Syarat cinta yang benar kepada nabi, yang benar diakui kecintaannya, yaitu kita harus memilih majelis yang disukai oleh orang yang dicintai. Bila kita hendak cinta kepada Nabi, maka majelis yang dikatujui Nabi itulah yang kita tempati, seperti majelis ilmu, majelis maulud, termasuk majelis dzikir, termasuk juga majelis shalawat dan majelis-majelis lainnya. Terakhir, baru dikatakan benar cinta kepada Nabi kita, yaitu kita harus, gawian kita, perbuatan kita, ucapan kita, tingkah laku kita supaya dapat menyenangkan hati Nabi kita, jangan sampai ucapan kita, perbuatan kita menyakiti hati baginda Nabi kita, lebih-lebih lagi pacang menghinakan Nabi kita”.

Minggu, 03 Oktober 2021

KH. MUHAMMAD YUSUF HD, S.Pd.I


KH. Muhammad Yusuf HD, S.Pd.I adalah salah seorang ulama dari Kecamatan Danau Panggang, kabupaten Hulu Sungai Utara. Pernah menjabat sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah “Shalatiyah” Bitin periode 2002-2009.

Diantara kalam beliau:

“Sembahyang tu, apabila katuju bajama’ah, pasti sembahyangnya diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Sekalipun sebarataan (semuanya) kadada nang khusyuknya. Imam dan makmum kadada nang khusyuknya (tetap) Allah memandang rakatnya tu, nah disitu tu Allah menerima. Apalagi imamnya khusyuk, makmum kada khusyuk, atau imam kada khusyuk tetapi ada makmum yang khusyuk saikung, maginnya ai. Ini sabarataan sudah kadada nang khusyuknya, Allah ta’ala tetap menerimanya (dengan) memandang kepada ruhuinya tu”.

“Ujar nabi, siapa yang sembahyang berjamma’ah, maka baginya diberi 5 macam. Pertama, orang itu hidupnya tidak akan susah, tidak mengalami faqir didunia. Kedua, Allah meangkat apabila inya mati daripada siksa kubur. Ketiga, diberikan catatan dengan tangan kanan. Orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanan, maka hisabnya mudah, pacangan baik, selamat. Keempat, melewati shirathal mustaqim seperti kilat menyambar. Kelima, Allah beri orang itu masuk sorga tanpa hisab, dan tanpa ada siksaan. Jadi masuk sorga tu nyaman”.

“Kenapa kita disuruh bapapandangan lawan guru? Karena berkahnya kita maitihi (memandang) muha (wajah) tu, lain jua pang lawan kita nang jauh, kada ta itihi  lawan muha guru tu lain jua. Kemudian imbah tuntung basalaman lawan guru pulang, lebih baik bagi engkau daripada beribadah 1000 tahun. Jadi imbah tuntung, basalaman. Basalaman musafahah tu nah. Ujar nabi : “man shaafahanii au shaafaha man shaafahanii ila yaumil qiyaamati dakhalal jannah” (Diriwayatkan dari al-Ma’mar, ia berkata: Aku pernah berjabat tangan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:  “Siapa saja yang bersalaman denganku atau ia bersalaman dengan orang yang pernah bersalaman denganku terus bersambung sampai hari kiamat, maka ia akan masuk sorga”). Sedangkan kita, kada kawa lawan Nabi basalaman, dengan sahabat nabi kada pernah jua, basalaman lawan tabi’in kada pernah, dengan tabi tabi’in kada pernah jua, guru dan guru sampai kita pernah bersalaman dengan orang yang pernah bersalaman dengan Rasulullah. Ujar Nabi : Dakhalal Jannah, masuk sorga. Hadits itu dalam bentuk fi’il madhi, artinya pasti orang itu masuk sorga, karena bersalaman dengan orang yang pernah bersalaman dengan Rasulullah terus bersambung sampai hari kiamat. Rentengnya tu bersyarat, dihadits tentang musalsal itu barenteng (berantai/bersambung)”.

Ustadz ZAINI


Ustadz Zaini adalah seorang da’i dari Desa Tambalang, Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dan orang yang beramal shaleh. Jadi bilanya orang beriman, beramal shaleh, Insya Allah hidupnya tenang. Bila hidupnya kada tenang, berarti ada apa dengan iman kita? Itu haja, kita haja nang malihatinya. Kuncinya, kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu iman  dan amal shaleh. (lalu) amal shaleh nang kaya apa? Disini ulun maringkasakan ada 4, yaitu : 1) bilanya sifat khair ada lawan kita, 2) sifat thayyib ada lawan kita, 3) sifat ma’ruf ada wan kita, dan 4) sifat ihsan ada wan kita, (maka) dinamakan shaleh. Bila lengkap keempatnya lalu shaleh. Bila shaleh sudah, dipadahakan oleh Rasulullah bahwa dijamin Allah masuk sorga”.