Sabtu, 16 Mei 2026

KH. Subdillah

 


KH. Subdillah adalah salah seorang tuan guru dari Desa Murung Panti Hilir, Kecamatan Babirik, kabupaten Hulu Sungai Utara.

Diantara kalam beliau:

“Betapa indahnya, betapa beruntungnya orang yang menghubungkan silaturrahmi. Bahkan, Nabi kita memberikan juga kepada kita ini, artinya yang dinamakan silaturrahmi itu, ujar Nabi, “bukanlah silaturrahmi itu sematamata babalasan, (seperti) inya (dia) memberi “anu” (sesuatu) kita memberi anu jua. Tetapi, hakikat silaturrahmi yang sangat tinggi nilainya, (adalah) apabila inya itu diputus hubungannya, melainkan inya (dia) yang menyambungnya”

“Ikam (kamu) berbuat baik (tetapi) inya (dia) kada baik, maka hakikatnya inya itu memakan habu nang panas (bara yang panas) nang engkau suapakan. Berarti ini suatu kutukan bagi orang yang cuek ketika mau dibaiki. Dan senantiasa menyertaimu pertolongan dari Allah dalam menghadapi mereka itu. Tapi nantinya inya itu kualat. “Katulahan” bahasa kitanya. Kita baik, inya kada baik. Kita baik berulangulang tetapi tetap saja inya kada baik, maka suatu saat orang tersebut akan “katulahan” bahasa kampung kita”

“Maka senantiasalah kita menghubungkan silaturrahmi dengan berbagai cara. Baik kita datang langsung ke rumahnya. Sekira jauh maka kita dapat berkirim hadiahkah padanya, atau paling tidak kita mengirimkan pesan berita kepada kawan. Otomatis misalnya cara yang disunnahkan Nabi kita bagus bakirim salam, bakirim salam lawan kawan, kirim salam lawan keluarga. Kita nang diberi salam ini jangan kada tahu cara menjawabnya. Di dalam kitab “alAdzkar”, apabila ada berita, (m9salnya) si A, si fulan bakirim salam lawan kita, (maka) jangan bapandir lain dahulu, maka kita jawab :  “ ‘alaika wa ‘alaihi salam” (‘alaika, atas engkau yang membawaakan, serta  ‘alaihi, dan atas inya yang bakirim, “assalam” (keselamatan). Mudah saja jawabannya : ‘alaika wa ‘alaihi salam”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar