Ustadz Muhammad Rafi, S.Ag, M.Ag dilahirkan di Desa Kaludan Besar, Kecamatan Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sedari kecil beliau telah mendalami ilmu agama di madrasah dan di surau. Kemudian, secara formal bersekolah di Pondok Pesantren “Rasyidiyah Khalidiyah” (Rakha) Amuntai hingga tingkatan Madrasah ‘Aliyah (tingkat ulya).
Selesai mondok, beliau melanjutkan kuliah ke Universitas Islam Negeri “Sunan Kalijaga” Yogyakarta mengambil program studi Ilmu alQur’an dan Tafsir. Selagi di Yogyakarta tersebut beliau menyempatkan belajar di Pondok Pesantren LSQ ar Rohmah, dengan memperdalam berbagai disiplin keilmuan, terutama dalam bidang al Qur’an dan tafsir. Setelah menyelesaikan program sarjana, beliau kemudian melanjutkan ke Universitas Islam Negeri “Antasari” Banjarmasin dengan mengambil program Magister pada bidang Studi Ilmu Tasawuf dan cabang cabangnya, dibawah bimbingan Prof. DR. H. Mujiburrahman, MA dan Prof. DR. H. Asmaran As, MA.
Sebagai seorang Penyuluh Agama Islam di kementerian Agama Kotabaru, Kalimantan Selatan, beliau aktif berdakwah secara formal maupun non formal, seperti mengisi majelis taklim, khutbah jum’at, dan juga berdakwah melalui tulisan.
Diantara kalam beliau:
“Secara sederhana, orang orang memahami bahwa alam sekitar diciptakan untuk kemakmuran manusia. Pandangan ini tidaklah keliru karena didasarkan pada dalildalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, pada praktiknya, sering terjadi keserampangan dan penyelewengan yang menghantarkan pada kerusakan alam. Oleh sebab itu, penting kiranya bagi kita untuk merefleksikan ulang hubungan manusia dengan alam sekitar. //
Bagi umat Islam, alam merupakan karunia Allah Subhanahu wa ta’ala, yang memiliki berbagai hikmah dan tujuan yang tak terhingga. Salah satu dari tujuan tersebut adalah menjadi wasilah bagi kemakmuran manusia. Bahkan, manusia pada hakikatnya diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, yakni orang yang bertanggungjawab mengelola bumi secara bijaksana.//
“Tidakkah engkau memeperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu (manusia) apa yang ada di bumi dan kapal yang berlayar di lautan dengan perintah Nya. Dan Dia menahan (benda benda) langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin Nya. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia (Qs. Al Hajj : 65)
Secara umum, surah alHajj ayat 65 menginformasikan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah menundukkan bagi manusia berbagai hal yang ada dibumi, lautan dan angkasa raya. Dengan menundukkan alam, manusia dapat mengambil manfaat darinya seperti memanfaatkan lautan sebagai sarana transfortasi. Semua itu dilakukan sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa ta’ala kepada manusia”
Lantas bagaimana manusia sebaiknya memanfaatkan alam ? jawaban paling logis berdasarkan dalil dalil tersebut di atas adalah dengan memanfaatkan alam secara sadar, penuh tanggungjawab dan berlandaskan keseimbangan (moderat). Dengan kata lain, manusia sebaiknya memanfaatkan alam secukupnya dengan meminimalisir kerusakannya.//
Manusia tidak boleh mengeksploitasi alam secara berlebihan, apalagi itu dilakukan demi kepentingan pribadi semata. Namun bukan berarti manusia tidak boleh memanfaatkan alam. Posisi pemanfaatan alam haruslah ditengah tengah antara tidak boleh dan berlebihan laksana sikap dermawan yang berada di antara ssikap boros dan kikir.//
Selain itu, penting untuk diingat bahwa meskipun manusia dibolehkan untuk memanfaatkan alam, namun hakikatnya mereka bukanlah pemilik alam. Manusia hanyalah khalifah di muka bumi, yakni orang yang diberi wewenang untuk mengelola bumi. Setiap wewenang tentu akan dipertanggungjawabkan di akhirat.// (Muhammad Rafi, S.Ag, M.Ag, “Merefleksikan ulang hubungan manusia dengan alam”, dipetik dari artikel Cari Ustadz.Id)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar