KH. Abdurrahman lahir di Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, pada 17 Mei 1944 (bertepatan dengan 24 Jumadil Awwal 1363 H). Berlatar belakang pendidikan madrasah dan pondok pesantren “Darussalam” Martapura. Sewaktu di Martapura beliau berguru langsung dengan KH. Ramli dalam ilmu Tauhid, Guru KH. Rafi’i dalam bidang fiqih, dan dengan KH. Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul) belajar ilmu tasawuf.
Sebelum pindah ke Buntok, beliau sempat kembali ke kampung halaman, dan mengajar di Madrasah “Hayatut Taqwa”. Kemudian dari tahun 1973 1990 beliau tinggal di Jenamas untuk mengajar agama di sekolah negeri maupun Madrasah. Tahun 1985 beliau diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil pada kantor Camat Jenamas. Meski menjadi pegawai pemerintah, beliau tetap aktif mengajarkan ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf di masyarakat.
Baru tahun 1990 beliau ditugaskan bekerja di Kantor Bupati Buntok. Di Buntok inilah beliau menetap sampai sekarang. Beliau kemudian mendirikan Majelis Taklim “Ar Rahmah” dan menjadi penceramahnya. Tidak itu saja, beliau juga mengisi ceramah rutin di berbagai langgAR DAN MESJID SEPERTI DI Mesjid “al Qadar”, di mesjid “al Jihad”, di langgar “Nurul Islam”, di langgar “al Munawwarah”, langgar “as Syifa”, dan juga menjadi penyuluh/ penceramah di Lembaga Pemasyarakatan (LP) selama kurang lebih 13 tahun.
Diantara kalam beliau:
“Kalau seseorang tidak mengetahui sifat 20 yakni ilmu ketuhanan yang disebut ilmu tauhid, maka seluruh amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah. Karena orang nang sembahyang, siapa yang disembah?”
“Masalah ilmu tauhid itu nomor satu. Seluruh ilmu itu nomor satunya ilmu tauhid. Karena kita mengenal Tuhan yang sebenarnya, tidak mengenal khayalan saja, tidak angan angan tidak. Oleh karena itu, kalau seseorang mengetahui tentang ilmu tauhid, sehingganya sampai mati tidak akan berubah. Allah menciptakan hatinya untuk ingat kepada Allah karena Tuhannya iakah yang bernama Allah”.
“Kenapa (sifat) wujud nomor satu ? karena yang mengadakan alam semesta ini hanya Allah, yang lain tidak bisa. Selain daripada Allah, seperti malaikatkah, manusiakah, siapa saja kada kawa. Jadi kalau kita mengenal sifat Tuhan dalam ilmu Tauhid ini, berarti yang menjadi alam semesta ini adalah Allah. Allah itu siapa? Allah itu Tuhan kita. Allah itu nama. Yang bernama Allah itu Tuhan kita yang bersifat 20 sifat. Hanya Allah, tidak ada sedikitpun begitu sifat 20 yang ada pada diri kita. Hanya yang ada pada diri kita ini pinjaman semestara. Wujud, ada kita sementara saja, kaena (nanti) tidak ada. Kemudian, kalau kita mengenal sifat Allah ta’ala Qidam, artinya sedia. Tuhan sedia tidak seperti kita. Karena Tuhan “sedia” itu tidak berpemulaan dan tidak berakhir. Makanya dalam al Qur’an itu disebutkan “Huwal awwalu wal akhiru”, Dia Tuhan yang awal tidak berpemulaan, sedangkan kita awal ada permulaannya, yakti hidup. Wal akhiru, dan Dia Tuhan yang akhir kada berkesudahan. Adapun kita akhirnya adalah kematian”.
“Kalau kita sudah mengenal sifat 20 ini, tidak ada ragu ragu didalam hati lagi. Siapa Tuhan kamu ? Nyata jawabnya : Allah. Di luar di lidah : Allah, dihatipun : Allah. Makanya jar urang bahari itu, sudah mandarah daging. Kalau kita mengucap “Allah” mengalir, artinya jadi darah daging”
“Hanya setan bila masuk ke dalam tubuh manusia, karena dia mengucap Allah itu sudah mesra dalam hati, maka setan akan kancur. Tetapi kalau hanya ucapan ditenggorokan, namun hati lalai, maka setan badahulu masuk ke hati. (Karena) disamping hati kiri ini ada “dhammun, lahmun, ar ratun fihii darus syaithan.” Ada disamping hati manusia, baik lakilaki dan wanita ada darah yang hitam. Darah yang hitam itu adalah rumahya syaitan. Bagaimana supaya syetan tidak tinggal disana? Makanya kita dianjurkan mengucap Allah di lidah, hatipun mengucap Allah. Kada mau lidah mengucap Allah, tetapi hati diam, berarti kosong. Bilanya kosong, maka dimasukinya syetan".
“Siapa Tuhan kamu? Allah. Allah itu siapa ? ia Tuhanku. Mati sabuku inya. Tuhannya Allah itu (yang sedemikian) tasambah nama. Siapa Tuhan kamu ? Allah ! Allah itu siapa? Ia Allah tu pang. (berarti tasambah nama) Tapi kalaunya masuk dalam hati, Allah, berarti sebenarnya Tuhan Allah. Kalau seseorang itu ingat dengan Allah dalam hatinya, jadi mendarah daging, nah yang ini yang sebenarnya. Karena iblis ini masuk ke darah daging, tujuannya tidak lain karena setan itu hendak mau mendiami rumahnya yang ada didalam tubuh manusia yang disamping kiri hati. Jadi bagaimana caranya supaya jangan dimasuki syaithan, maka jangan lupa jar Nabi mengucap : Bismillahirrahmaannirrahiim”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar