Kamis, 01 Oktober 2026

KH. Luthfi Yusuf

 

KH. Muhammad Luthfi bin H. Muhammad Yusuf bin H. Matseman, lahir di Banjarmasin, 11 November 1959 (bertepatan dengan 10 Jumadil Awwal 1379 H). Menurut keterangan beliau keturunan orang Amuntai yang menjadi saudagar minyak di Banjarmasin. Berlatar belakang pendidikan SDN Sungai Mesa (1968  1974), kemudian melanjutkan ke SMIP Sungai Jingah (1974  1977),. Tamat dari SMIP beliau melanjutkan ke Pondok Pesantren “Darussalam” Gontor Ponorogo (1977 1981), kemudian kembali melanjutkan menimba ilmu ke Universitas al Azhar, Cairo, Mesir pada Fakultas Tarbiyah (1982 1988) hingga mendapat gelar Lc.

Selesai menimba ilmu di Mesir, terus melanjutkan studi ke Pakistan tepatnya di Madrasah al Jami’atul asrafiyah, Islamabad, Pakistan hingga menyandang gelar Maulana (1990  1992). Sedangkan gelar Doktor beliau peroleh dari Universitas Jami’atul ulum al Islamiyah, karachi, Pakistan (1993).

Beliau kemudian kembali ke tanah air pada tahun 1997 dan langsung aktif mengembangkan dakwah berkeliling ke berbagai tempat di dunia, termasuk di dalam negeri. Beliau mempunyai kedekatan dengan  ustadz Nuruddin Marbu (Amuntai). Sewaktu KH. Nuruddin marbu kuliah ke al Azhar, ustadz Luthi lah yang pertama kali menyambutnya di Bandara. Karena Ustadz Luthfi lebih dulu 1 tahun kuliah di al Azhar tersebut. Dalam masalah hukum, maka syaikh Nuruddin Marbu inilah yang menjadi rujukan ustadz Luthfi.

Beliau juga mempunyai kedekatan dengan syaikh Sufyan Noor Marbu (adik Syaikh Nuruddin marbu). Pada tahun 1997 mendirikan Pondok pesantren “al Ihsan” Banjarmasin yang fokus pada tahfizh al Qur’an. Beliau mempercayakan Pondok kepada Ustadz Sufyan Noor marbu untuk menjadi pengasuh. Namun setelah ustadz Sufyan Nuur Marbu hijrah ke Malang, maka KH. Luthfi lah yang menjadi pengasuh tetapnya. Beliau juga kemudian mendirikan dan mengembangkan Pesantren Tahfizh “al Ihsan” Bentok, Tanah Laut, yang diresmikan pada 21 Maret 2012.

KH. Luthfi Yusuf adalah pelopor dan penggerak dakwah jama’ah tabligh di Kalimantan Selatan. Beberapa tokoh jama’ah tabligh yang sering bersama dengan beliau, diantaranya Dr. KH. Saberan Affandi (Paliwara, Amuntai), KH. Nur Salim Safran (Panyiuran, Amuntai), KH. Masrani Hamdan (Muara Tapus, Amuntai), KH. Abdullah AA (Kotaraja, Amuntai), dll.

Telah berpulang kerahmatullah pada 29 Maret 2020 (bertepatan 4 Sya’ban 1441 H) di RSU Kanujoso, Balikpapan. Di makamkan di Balikpapan.

Diantara kalam beliau:

“Dunia terlambat tidak jadi masalah. Tapi agama kalau terlambat, fatal”.

“Orang yang Allah ridhai itu 3 (tiga) saja. Tiga kelompok ummat. Kalau para anbiya sudah jelas. Yaitu para sahabat kaum muhajirin, kaum anshar dan orang orang yang mengikuti mereka. Sebagaimana Allah firmankan : “was saabiqunal awwaluna minal muhajirina wal anshari walladziinattaba’uhum bi ihsanir radhiyallahu ‘anhum wa radhu’an ..... (orang orang yang terdahulu lagi yang pertamatma (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orangorang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka sorga sorga yang mengalir sungai sungai didalamnya selama lamanya. Mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang besar (Qs. At Taubah : 100)”

“Ada 2 (dua) perkara yang perlu difahami dalam kehidupan. Yang pertama, keperluan hidup (necessary  of life). Yang kedua, tujuan hidup (the purpose of life). Keperluan hidup adalah untuk menopang tujuan. Jangan sampai keperluan justru menghalangi dari tujuan. Dalam al Qur’an Allah berjanji : kalau kita betul betul ada perhatian kepada tujuan hidup maka Allah akan memberikan garansi, memberikan jaminan pasti, pasti dan pasti keperluan hidup kita akan dimudahkan Allah Subhasnshu wa ta’ala”

“Allah tidak memberikan ganjaran kepada seseorang karena kerja dia, tetapi Allah memberikan ganjaran kepada seseorang karena niat dia. Sebab, niyyatul mu’mini khairun min ‘amalihi (niat seorang mukmin lebih baik dari amalannya)/HR. Thabrani). Jadi, amal kita ini hanya bahkan tidak mencapai batas, tetapi kalau niat bisa menembus batas”.

“Ummat islam boleh dikorbankan untuk agama, tapi agama tidak boleh dikorbankan untuk ummat Islam. Ummat terbunuh mati semuanya untuk Islam, bagus. Ummat Islam hidup semuanya dengan penuh kemakmuran tapi agama dikorbankan, tidak bisa.

“Islam (agama) dulu yang dijaga, kalau Islam (agama) sudah terjaga, maka ummat Islam pasti terjaga”.

“Al Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaihi. Islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa lebih tinggi darinya. Tapa apa asbab (sebab) daripada tingginya Islam itu? Maka harus ada 3 tarbiyah pendidikan, kalau ketiga ini ada maka Islam bisa lebih tinggi, dan tidak ada yang bisa menyaingi Islam. Pertama, harus ada majelis ta’limul Qur’an dan tahfizh al Qur’an. Kedua, harus ada majelis ma’anil qur’an, menggali kandungan al Qur’an. Ketiga, harus ada khuruj fi sabilillah, keluar berdakwah menyebarkan dan mempraktikan isi al Qur’an”.

“Hari ini orang beriman merasa tidak aman, bahkan kadangkadang keimanan yang mana yang akan menghadirkan keamanan dipermukaan dunia ini? Maka bukan sekedar iman dilisan saja, sekedar pengakuan dihati tanpa dibuktikan dengan kerja. Maka Allah firman kan : “Alladzina ‘amaanu walam yalbisu imanahum bidzulmin ulaa ika lahumul amnu wahum muhtadun (Qs. Al An’am (6) : 82) Bagi mereka yang beriman, dan mereka tidak mencampuradukkan keimanan dengan kedzaliman. Kedzaliman disini ditafsirkan oleh Rasulullah adalah kemusyrikan. Sebagaimana firman Allah ta’ala dalam al Qur’an : “Inna syirka ladzulmun ‘azhiim (Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah benarbenar kezaliman yang besar” (QS. Luqman : 13). Jadi kemusyrikan inilah yang merupakan kedzaliman yang besar. Maka Allah janjikan, barangsiapa tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kemusyrikan, maka merekalah yang akan mendapatkan keamanan, dan kehidupan yang mendapatkan bimbingan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Jadi kalau sekiranya orang beriman masih diancam, diintimidasi, dan sebagainya, (seperti) dijalan merasa tidak aman, mau tidur tidak merasa aman, hartanya takut ditaruh dimana tidak aman, itu membuktikan bahwasanya iman dia masih bercampur dengan kemusyrikan”

“Semakin kokoh iman seseorang, maka semakin terasa aman hidup. Dan semakin bedsarnya kemusyrikan didalam diri seseorang maka dia akan dihantui oleh perasaan tidak aman”

“Iman yang tidak bercampur dengan kedzaliman, iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan, inilah yang akan menghadirkan keamanan di dunia”.

“Barangsiapa yang beramal shaleh, sama laki laki atau wanita dan dia sendiri beriman. Jadi kerja yang dia kerjakan, amal yang diamalkan dengan landasan semata mata karena Allah, ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala, maka janji Allah kepada semua manusia ini, kalau kehidupan diisi dengan iman dan amal, pasti dan pasti akan Kami berikan kehidupan yang indah, keselesaan (kenyamanan) dalam kehidupan, kenikmatan, kebahagiaan, ketenangan, keamanan Allah berikan dalam iman dan amal di dunia, dan nanti diakhirat akan Kami berikan lagi ganjaran yang lebih daripada apa yang mereka kerjakan. Jadi agama tidak hanya menjanjikan kebahagiaan di akhirat, itu jelas ! tetapi agama juga menjanjikan keselesaan (kenyamanan), menjanjikan kebahagiaan dalam kehidupan didunia ini, bahkan orang yang akan dimasukkan ke sorga oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, maka kehidupan sorgawi itu sudah dirasakan di dunia ini. Jadi kalau orang belum merasakan kenikmatan bathin jangan berharap untuk masuk sorga, dan orang yang masuk ke dalam neraka, (juga) sudah Allah rasakan bagaimana susahnya kehidupan didunia ini walaupun ditengah tengah glamour harta. Karena ada dikatakan : “Dunia adalah bayangan akhirat”. Maka orang yang akan bahagia diakhirat, sudah ada bayangannya kebahagiaan tersebut, walaupun tidak sebanyak yang ia ... tapi bayangannya sudah ada (bahwa) ia akan berbahagia disana”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar