KH. Fakhruddin,
lahir di Alabio, Sabtu, 3 Juni 1944 M (bertepatan dengan 11 Jumadil Akhir 1363 H) adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Kecamatan Sungai Pandan. Perjalanan menuntut ilmu dimulai ketika bersekolah di Sekolah Rakyat Islam Nahdlatul Ulama (SRINU) Lulus tahun 1959. Kemudian melanjutkan ke Ponpes Rakha selama 6 tahun (1966). Adapun Diploma D3 Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin lulus tahun 1999.
Tugas mulia beliau emban sebagai guru agama dibeberapa sekolah seperti di SDN Bakti, PGAN Amuntai dan MAN 2 Amuntai. Pernah menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Salafiyah, Bitin, kec. Danau Panggang.
Dalam organisasi keagamaan, beliau aktif sebagai Ketua MUI Sungai Pandan, Ketua Badan Peduli Kesehatan Masyarakat (BPKM) Alabio periode 2006- , Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Alabio periode 2010 - 2015, Wakil Rais Syuriah PCNU (2015 - 2020), dan menjadi Rais Syuriah (2020 - 2025). Beliau juga memimpin Majelis Taklim “al-Mudakkir” Desa Pematang
Benteng, kecamatan Sungai Tabukan (1995 - sampai sekarang).
Diantara kalam
beliau:
“Dalam mengucap
dzikir “La ilaha illallah” banyak sekali yang salah. Ada yang
memanjangkan “Ha” nya, yang baik semestinya biasa saja, alun saja. Bila
dalam membacanya khoto’ (salah) yang diucapkan (maka) menjadi tidak
bernilai, nilainya sia-sia, percuma berdzikir banyak-banyak”
“Syiar Islam
yang benar-benar dapat dibanggakan adalah berjamaah. (seperti) jama’ah
sembahyang dan jama’ah-jama’ah lainnya, ada jama’ah majelis taklim, ada jama’ah
pengajian-pengajiannya, inilah syi’ar yang besar”
“Agar kita
selalu menang dalam ujian bermacam-macam, antara lain adalah dengan istiqamah
dalam beriman, istiqamah dalam aqidah, istiqamah dalam amal shaleh, insya Allah
kita akan menjadi orang yang amanah”
“(dalam
peristiwa Isra Mi’raj, pen) : “suatu peristiwa yang suci, berawal dari nabi
yang suci, bertemu nabi-nabi yang suci di langit, menghadap Tuhan yang Maha
Suci di Mustawa untuk membawa perintah suci supaya umat kembali kepada kesucian”
“(dapat diambil
I’tibar,pen) : “bahwa adanya langit yang bertingkat-tingkat menandakan bahwa
belajar atau menuntut ilmu itu harus bertahap dari bawah sampai ke tingkat
atas. Begitu juga seorang murid harus patuh mengikuti perintah dan ilmu yang diterimanya
dari guru sebagaimana Nabi tunduk dan patuh membawa perintah shalat lima waktu”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar