Rabu, 01 November 2017

KH. FAKHRUDDIN


KH. Fakhruddin, lahir di Alabio, Sabtu, 3 Juni 1944 M (bertepatan dengan 11 Jumadil Akhir 1363 H) adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Sungai Pandan. Perjalanan menuntut ilmu dimulai ketika bersekolah di Sekolah Rakyat Islam Nahdlatul Ulama (SRINU) Lulus tahun 1959. Kemudian melanjutkan ke Ponpes Rakha selama 6 tahun (1966). Adapun Diploma D3 Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin lulus tahun 1999.
Tugas mulia beliau emban sebagai guru agama dibeberapa sekolah seperti di SDN Bakti, PGAN Amuntai dan MAN 2 Amuntai. Pernah menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Salafiyah, Bitin, kec. Danau Panggang.
Dalam organisasi keagamaan, beliau aktif sebagai Ketua MUI Sungai Pandan, Ketua Badan Peduli Kesehatan Masyarakat (BPKM) Alabio periode 2006-  , Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Alabio periode 2010 - 2015, Wakil Rais Syuriah PCNU (2015 - 2020), dan menjadi Rais Syuriah (2020 - 2025). Beliau juga memimpin Majelis Taklim “al-Mudakkir” Desa Pematang Benteng, kecamatan Sungai Tabukan (1995 - sampai sekarang). 



Diantara kalam beliau:

“Dalam mengucap dzikir “La ilaha illallah” banyak sekali yang salah. Ada yang memanjangkan “Ha” nya, yang baik semestinya biasa saja, alun saja. Bila dalam membacanya khoto’ (salah) yang diucapkan (maka) menjadi tidak bernilai, nilainya sia-sia, percuma berdzikir banyak-banyak”

“Syiar Islam yang benar-benar dapat dibanggakan adalah berjamaah. (seperti) jama’ah sembahyang dan jama’ah-jama’ah lainnya, ada jama’ah majelis taklim, ada jama’ah pengajian-pengajiannya, inilah syi’ar yang besar”

“Agar kita selalu menang dalam ujian bermacam-macam, antara lain adalah dengan istiqamah dalam beriman, istiqamah dalam aqidah, istiqamah dalam amal shaleh, insya Allah kita akan menjadi orang yang amanah”

“(dalam peristiwa Isra Mi’raj, pen) : “suatu peristiwa yang suci, berawal dari nabi yang suci, bertemu nabi-nabi yang suci di langit, menghadap Tuhan yang Maha Suci di Mustawa untuk membawa perintah suci supaya umat kembali kepada kesucian”

“(dapat diambil I’tibar,pen) : “bahwa adanya langit yang bertingkat-tingkat menandakan bahwa belajar atau menuntut ilmu itu harus bertahap dari bawah sampai ke tingkat atas. Begitu juga seorang murid harus patuh mengikuti perintah dan ilmu yang diterimanya dari guru sebagaimana Nabi tunduk dan patuh membawa perintah shalat lima waktu”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar